Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sekeluarga Nelangsa, Tanggung Jawab Siapa?

Senin, 21 November 2022 | Senin, November 21, 2022 WIB | 0 Views Last Updated 2022-11-21T00:51:14Z

 



Shiddiq-news.com-Bak bola salju, walaupun pandemi hampir berakhir tetapi persoalan kehidupan terus menggunung. Kehidupan sosial kian mengkhawatirkan hingga tak ada lagi kepedulian antar sesama.

Sebagaimana dilansir dari Republika.com, kerabat dari satu keluarga ditemukan tewas di Kalideres, Jakarta Barat. Banyak yang merasa ragu bahwa tewasnya keluarga tersebut kelaparan. Sebab, keluarga dikatakan mampu dan tidak mungkin kelaparan. Oleh karena itu masih dilakukan proses penyelidikan oleh pihak berwajib. 

Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Metro Jaya, Kombes Hengki Haryadi, turut angkat bicara soal penyebab kematian satu keluarga tersebut. Terkait soal mati karena kelaparan, Hengki menilai hal itu belum bisa dipertanggungjawabkan.

Kejadian tersebut begitu miris.  Memang ironis ketika sikap cuek terhadap kondisi sekitar dianggap sebagai hal yang wajar. Namun itulah realita hidup dalam sistem yang diterapkan hari ini.

Sistem kapitalis membentuk individu menjadi pribadi yang  individualis dan apatis terhadap tetangga maupun lingkungan sekitar. Kapitalisme menganggap bahwa masyarakat terdiri dari individu-individu saja. Adapun jika urusan individu selesai maka selesailah urusan masyarakat. Kapitalisme tidak akan melihat masyarakat secara menyeluruh apakah mereka sejahtera dan makmur. Bahagia atau justru sengsara.

Lebih parahnya lagi negara yang mengadopsi sistem kapitalisme hanya bekerja untuk kepentingan individu saja. Pemilik modal yang akan memegang kendali kekuasaan.

Kehidupan yang jauh dari agama membentuk masyarakat yang minim  empati. Sebab mereka pasti memilih hidup yang mengedepankan rasa kenyamanan diri individu sendiri.

Masyarakat seperti ini diperkuat dengan kebijakan negara yang jarang berpihak kepada rakyat kecil. Negara yang membiarkan model pembangunan perumahan kapitalistik, menjadi pemicu renggangnya interaksi sosial. Akibatnya muncul sikap cuek dan tidak peduli terhadap kondisi sekitar.

Berbeda dengan Islam yang merupakan agama sekaligus aturan sempurna untuk mengatur kehidupan. Pemerintah yang menerapkan Islam secara menyeluruh (kafah) dalam bingkai negara khilafah islamiyah sangat menekankan pentingnya sikap empati. Negara berpandangan bahwa perkara bertetangga dan bermasyarakat dalam sistem Islam bukan dipandang sebagai interaksi sosial yang manusia berkumpul satu dengan yang lain. Sebagaimana disebutkan oleh Syekh Taqiyyuddin an-Nabhani dalam kitabnya, Nidhamul Islam dalam bab Qiyadah Fikriyah.

Syekh Taqiyuddin menjelaskan bahwa konsep masyarakat dalam Islam adalah terdiri dari kumpulan manusia, pemikiran, perasaan dan peraturan. Maka pemikiran, perasaan dan peraturan masyarakat dalam khilafah islamiyah akan terikat dengan syariah Islam. Karenanya konsep bertetangga dalam Islam pun dikaitkan dengan keimanan. Maka, ketika negara khilafah islamiyah ditegakkan maka tidak akan pernah menjumpai masyarakat yang individualis.

Sudah sememestinya, syariah Islam tidak hanya dipahami oleh individu dan masyarakat semata. Tetapi juga negara juga harus memiliki kebijakan jelas  terkait tata letak kota dan bangunan perumahan.
Sebagaimana pada masa peradaban Islam dulu, yakni wilayah Andalusia.

Perumahan di wilayah Andalusia diatur menggunakan sistem blok. Seperti layaknya kluster perumahan pada masa modern. Satu blok terdiri dari delapan atau sepuluh bangunan rumah. Peraturan seperti ini melahirkan kebijakan yang rapi dan mengefektifkan pengamanan lingkungan. Selain beberapa kawasan pemukiman nonmuslim dihuni oleh kaum Yahudi dan Nasrani yang terikat dengan perjanjian negara khilafah islamiyah untuk menjadi warga negaranya.

Sekalipun tempat-tempat pemukiman nonmuslim ini terpisah akan tetapi tidak menghalangi masyarakat untuk bersosialisasi. Karena kehidupan sosial masyarakat negara khilafah islamiyah sebagaimana firman Allah yang artinya: "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa" (TQS al-Hujurat : 13) .

Demikianlah gambaran mekanisme ketika Islam diterapkan dalam bingkai negara. Semua masalah dapat diselesaikan dengan tuntas. Termasuk bagaimana menjaga nyawa manusia.

Hubungan sosial kemasyarakatan terjalin dengan baik meski berbeda keyakinan. Negara mampu menata perumahan hingga perkotaan. Masyarakat memiliki rasa empati tinggi, sehingga cepat tanggap jika ada yang kelihatan tidak beres.

Apakah kita tidak rindu hidup dalam kondisi seperti itu?

Wallahu a'lam bishawab

Oleh : Qonitta Al-Mujadillaa (Aktivis Muslimah Kalsel)

×
Berita Terbaru Update