Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Buramnya Kehidupan Masyarakat Sekuler

Sabtu, 03 Desember 2022 | Sabtu, Desember 03, 2022 WIB | 0 Views Last Updated 2022-12-03T05:38:07Z


SIDDIQ-NEWS -- Banyaknya persoalan di negeri ini seolah terasa tidak ada habisnya. Semakin ke sini semakin banyak sekali permasalahan yang datang silih berganti tanpa henti. Belum selesai masalah yang satu, bertambah lagi masalah lainnya. Seperti halnya banyak kasus yang belakangan ini terjadi, yaitu kasus satu keluarga yang ditemukan dalam keadaan meninggal dunia di Kalideres yang mendadak viral dalam perbincangan publik.


Kejadian itu hingga kini masih menjadi misteri. Sebagaimana dikutip dari bbcnewsindonesia.com (16/11/2022) bahwa pihak kepolisian masih mengusut kasus ini. Sebelumnya disebutkan jika penyebab kematian satu keluarga ini akibat kelaparan. Dari hasil pemeriksaan pihak forensik (medis) mengatakan bahwa keempat korban yang meninggal itu sudah lama tidak mendapat asupan makanan maupun minuman, hal ini terlihat dari otot-ototnya yang sudah mengecil. Mirisnya tetangga sekitar tidak mengetahui apa yang dialami oleh keluarga tersebut. Dari beberapa kasus lain yang terjadi, menambah daftar panjang rentetan kasus keluarga meninggal diakibatkan karena tidak terpenuhinya asupan makanan yang sangat dibutuhkan tubuh (kelaparan).


perilaku individualistis telah tumbuh di hati masyarakat. Bayangkan sudah tiga pekan sekeluarga tewas dan baru ditemukan. Itupun karena adanya aroma busuk yang tercium oleh petugas kebersihan yang hendak mengambil sampah. Bagaimana bisa orang-orang yang bertetangga sudah 20 tahun masih tidak tahu dan tidak mencari jika tetangganya tidak menampakkan batang hidungnya selama tiga pekan. Inilah potret kehidupan bermasyarakat dalam sistem sekuler, yang masing-masing memiliki sikap individualistis. Ditambah lagi peran negara yang sudah terlalu abai tingkat akut sehingga tidak peduli dengan kehidupan rakyat.


Sistem Kapitalisme di Indonesia terasa sangat mahal bagi banyak orang. Padahal, negeri ini dianggap sebagai model pemerintahan demokrasi terbaik dari negeri muslim. Realitas menunjukkan banyak sekali masyarakat Indonesia masih terbelenggu oleh kemiskinan. Angka ambang batas kemiskinan di Indonesia menunjukkan kegagalan sistem demokrasi sekuler dalam memenuhi hak-hak ekonomi masyarakat. Bahkan dengan alasan hidup miskin, banyak perempuan yang memilih untuk bekerja di luar negeri hanya demi mempertahankan standar dasar kehidupan. 


Itu semua terjadi karena umat telah kehilangan kepemimpinan yang sejatinya sangat dirindukan oleh seluruh umat manusia. Semenjak sistem Islam diruntuhkan oleh orang-orang kafir, umat Islam didera berbagai persoalan seperti kemiskinan, kemudahan, penyelesaian, dan kerusakan moral. Penyebabnya karena tidak adanya tameng yang menjaga dan melindungi rakyatnya.


Meskipun umat di negeri-negeri tersebut menganut agama Islam, tetapi maraknya paham sekuler menjadikan masyarakat lupa akan keislamannya. Sehingga muncullah sekat dekorasi antara kehidupan dengan agama. Agama tidak diperbolehkan dan tidak diharuskan dalam mengatur dan memantau di bidang ekonomi, politik, sosial, budaya dan pendidikan yang bukan berasal dari Islam. 


Padahal Islam adalah satu-satunya harapan dan solusi untuk mengatasi berbagai permasalahan kehidupan. Di antaranya Islam menyalakan tiga kebutuhan pokok individu yakni pangan, papan dan sandang. Ketiganya wajib dipenuhi sempurna untuk individu-perindividu. Islam juga menetapkan tiga kebutuhan dasar untuk umat yakni keamanan, kesehatan dan pendidikan. Ketiganya wajib dipenuhi untuk umat. Negara wajib menyediakan semua itu secara mencukupi untuk semua orang tanpa kecuali dan tanpa kerumitan.


Jaminan pemenuhan kebutuhan hidup itu, tidak hanya diberikan kepada kaum muslimin, tetapi juga kepada non muslim. Dalam hal ini, non-Muslim yang menjadi warga negara di bawah kekuasaan Islam mempunyai hak yang sama dengan Muslim, tanpa ada perbedaan. Semua itu adalah bukti bahwa Islam mampu menjaga dan melindungi masyarakat sehingga hidup sejahtera. 


Wallahu a'lam bi ash-shawwab.


Penulis : Ummu Dayyin

(Pemerhati Generasi)

×
Berita Terbaru Update