Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pendidikan Islam Menghasilkan Generasi Bermoral

Jumat, 16 Desember 2022 | Jumat, Desember 16, 2022 WIB | 0 Views Last Updated 2022-12-16T04:49:12Z


siddiq-news.com - Perilaku kekerasan di tengah-tengah remaja dan pelajar yang marak terjadi akhir-akhir ini, sangat mengkhawatirkan. Fenomena tersebut tentu harus menjadi perhatian serius semua elemen masyarakat, agar ada upaya untuk  menghentikannya. 


Sebagaimana dikutip dari media daring Bandung Berita (26/11/2022) Untuk itu Bupati Bandung H. M. Dadang Supriatna, terus berupaya mengoptimalkan pembelajaran tiga muatan lokal (mulok) untuk siswa di sekolah. Yaitu pendidikan Pancasila dan UUD 1945, pendidikan bahasa dan budaya Sunda serta belajar mengaji dan menghapal al-Quran. Ketiganya tersebut adalah bentuk perhatian dan langkah nyata Pemkab Bandung dalam upaya membangun pelajar yang berkarakter serta bermanfaat untuk dirinya sendiri maupun bangsa dan negara. 


Karakter adalah seperangkat sifat yang selalu dikagumi menjadi tanda-tanda kebaikan, kebajikan dan kematangan moral seseorang. Secara bahasa istilah karakter barasal dari Bahasa Latin character, yang berarti tabiat, sifat-sifat kejiwaan, budi pekerti, kepribadian serta akhlak. Menurut Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah (Dirjen PAUD Dasmen) Kemendikbud, Jumeri, pembentukan karakter itu paling tepat di tingkat SMP. Sebab pada usia SMP-lah siswa mulai berpikir dalam menentukan langkahnya di masa depan.  Siswa SMP harus dibentuk karakternya agar memiliki kepribadian baik.


Selanjutnya Jumeri juga mengatakan bahwa individu yang berkualitas hanya bisa diperoleh dari lingkungan yang baik. Setidaknya ada tiga aspek yang mampu membentuk karakter seseorang, yaitu: Pertama keluarga atau orangtua yang memberi pengaruh sangat besar 60%. Kedua, sistem pendidikan yang memberi pengaruh 25-30%. Ketiga, masyarakat yang memberi pengaruh 10-15%. Masing-masing aspek saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Yang pertama dan kedua masih bisa dikontrol, tapi yang ketiga yaitu aspek masyarakat sangat sulit mengontrolnya.


Dari sini terlihat bahwa peran negara hanya sebagai regulator, pembuat kurikulum atau satuan pendidikan yang akan diajarkan di sekolah. Sekilas, apa yang digagas oleh Bupati Bandung nampak bermanfaat dan patut diapresiasi, beliau bahkan turun ke lapangan langsung untuk memastikan kurikulum muloknya benar-benar dilaksanakan di sekolah-sekolah. Sejak beberapa bulan terakhir ia rutin mendatangi sejumlah sekolah, baik SD atau SLTP melalui program Buku Sekolah (Bupati Kunjungi Sekolah).


Berharap pada tiga mulok untuk menjadikan remaja dan pelajar saleh dan berkarakter bisa saja dilakukan,  agar dapat mendidik generasi muda menjadi generasi yang lebih baik. Tapi sebenarnya ada contoh terbaik untuk membentuk generasi  berkualitas yang memiliki kekuatan besar dalam melakukan perubahan. Mereka tidak lain adalah para sahabat yang dididik oleh Rasulullah saw. dengan Islam, hingga mampu merubah peradaban jahiliyah menjadi peradaban yang gemilang.


Remaja dan pelajar yang saleh dan berkarakter itu harus dibina dengan Islam. Sebagaimana Rasul membina para sahabatnya dengan ayat-ayat al-Qur’an. Mereka dikenalkan dengan perintah dan larangan Allah, dibiasakan menghapal al-Qur’an, memahami dan mengamalkannya. Selanjutnya para sahabat ini siap berkiprah dan berperan di tengah masyarakat. Mereka menjadi model dalam membawa perubahan dari masyarakat yang suka mabuk-mabukan, judi, berzina, menindas yang lemah dan tawuran menjadi masyarakat yang beradab, bermartabat dan adil. Kunci keberhasilannya terletak pada pengamalan al-Quran, setelah yakin tanpa keraguan akan kebenarannya.


Oleh karena itu sekedar menghapal al-Quran belum cukup menjadikan anak saleh dan berkarakter, namun hanya sekedar sebuah bentuk pembiasaan yang baik. Begitu juga mengenalkan budaya dan bahasa Sunda yang halus silih asah, silih asuh dan silih asih juga perlu dilakukan, sebagaimana pentingnya mengenalkan anak dengan nilai-nilai luhur dari pancasila. Namun ketika anak sudah masuk usia balig, maka harus ditanamkan padanya keimanan kepada Allah. Bahwa Allah itu Maha Pencipta yang berhak disembah dan dituruti perintah dan laranganNya. Dengan keimanan yang menghunjam di dalam hati, apapun ilmu yang disampaikan pada anak didik akan menambah keimanan dan ketakwaannya.


Hanya saja untuk menjaga keimanan dan ketakwaan remaja dan pelajar ini diperlukan masyarakat yang bertakwa juga. Karena ada kaidah yang mengatakan masyarakat yang baik akan menjaga individu tetap dalam kebaikannya. Semua itu tergantung dari  aturan yang diterapkan, yang mesti sesuai al-Qur'an  demi mewujudkan generasi yang saleh dan berkarakter.


Pengamalan al-Qur’an oleh negara merupakan jaminan kegemilangan peradaban manusia. Bukan hanya menghasilkan generasi yang tangguh secara fisik dan mental tapi bisa menjadi mercusuar dunia. Hal ini bukan isapan jempol belaka, tapi memang sudah terbukti dan tercatat dalam sejarah bagaimana bangsa Arab yang terbelakang, tidak diperhatikan, namun pada akhirnya mampu membawa perubahan besar pada dunia. Kegemilangan ini terus berlanjut dan bertahan hingga mencapai 13 abad.


Negara yang menerapkan aturan sesuai al-Qur’an ini akan mampu menyelamatkan remaja dan pelajar sekarang dari krisis akhlak dan berbagai kerusakan lainnya.  Untuk itu, membina remaja dan pelajar dengan Islam sangat penting dilakukan.  Masa depan umat ada di tangan mereka, sebagai calon  pemimpin di masa depan. Adalah tugas besar mengarahkan para pemuda agar tidak menjadi generasi lemah dan siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Mari kita renungkan firman Allah Swt. dalam QS An-Nisa ayat 9 yang artinya: 


"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh karena itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar."


Wallahu a'lam bi ash-shawwab.


Penulis : Oleh Umi Lia

(Member Akademi Menulis Kreatif)

×
Berita Terbaru Update