Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kemiskinan Sebabkan Stunting Semakin Genting

Kamis, 26 Januari 2023 | Kamis, Januari 26, 2023 WIB | 0 Views Last Updated 2023-01-26T07:25:26Z

 



Negara wajib untuk memastikan dan menjamim kebutuhan dasar rakyatnya terpenuhi dengan baik. Negara dalam Islam akan melakukan sensus guna memastikan para kepala keluarga bisa menafkahi tanggungannya, sekaligus menyediakan lapangan pekerjaannya


Oleh Cinthia Aristha, S.K.M

(Pegiat Literasi)


Masalah stunting hingga saat ini masih menjadi salah satu masalah besar di dunia termasuk Indonesia. Stunting sendiri merupakan gangguan pertumbuhan pada anak akibat dari kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama sehingga menyebabkan tinggi badan anak lebih pendek dari standar tinggi badan anak seusianya.


Mengutip dataindonesia (14/7/2022), menurut hasil Survey Status Gizi di Indonesia, tahun 2021, prevalensi balita yang mengalami stunting sebesar 24.4%. Sementara saat ini pemerintah menargetkan angka tersebut turun menjadi 14% pada tahun 2024.


Dilansir dari Republika (15/1/2023), Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy mengungkapkan bahwa permasalahan kemiskinan ekstrem dan stunting saling bersisian dan irisan tersebut mencapai angka 60%.


Menurutnya, untuk menyelesaikan masalah kemiskinan ekstrem dan stunting harus dilakukan dengan mengeroyoknya secara bersamaan. Ia juga menambahakan bahwa pemerintah melakukan upaya serius dalan penanganan stunting dan kemiskinan ekstrem melalui intervensi spesifik yakni intervensi yang berhubungan dengan peningkatan gizi dan kesehatan, sementara intervensi sensitif yaitu dengan intervensi pendukung untuk mempercepat penurunan stunting, seperti penyediaan air bersih, MCK, dan fasilitas sanitasi.


Penanganan tersebut dinilai akan dapat menurunkan angka stunting dan mengatasi kemiskinan di Indonesia. Apakah tujuan penurunan tersebut akan benar-benar tercapai di tahun 2024?


Dari pemaparan tindakan yang diambil oleh pemerintah dengan intervensi yang dilakukan seperti peningkatan gizi dan kesehatan sampai dengan penyediaan fasilitas sanitasi merupakan masalah cabang semata. Tindakan-tindakan tersebut tidak akan membuahkan hasil yang signifikan selama kita tidak mencari akar dari masalah sesungguhnya.


Kapitalisme dan Kemiskinan Kronis


Sudah menjadi rahasia umum bahwa masalah stunting disebabkan oleh masalah ekonomi yang terjadi di masyarakat. Ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan bergizi sangat sulit dilakukan, bahkan hanya untuk memenuhi hajat makan sehari-hari saja sudah begitu susah apalagi harus memperhatikan asupan gizi yang harus dipenuhi.


Ironis, tapi inilah fakta yang terjadi di tengah masyarakat saat ini. Kenaikan angka stunting dan kemiskinan kronis yang mendera tidaklah mengagetkan. Sebab sulitnya mencari lapangan pekerjaan, ditambah dengan rakyat yang harus membayar pajak namun tidak diimbangi dengan kemudahan untuk mengakses pelayan kesehatan, pendidikan. Serta tidak terjaminnya keselamatan serta keamanan masyarakat membuat solusi yang ditawarkan oleh sistem hari ini terdengar sangat mustahil.


Semua hal tersebut tidak lain terjadi disebabkan oleh penerapan sistem ekonomi kapitalisme. Sistem ini menjadikan harta dan kekayaan hanya terkosentrasi pada segelintir elite saja. Hasil SDA yang seharusnya menjadi milik rakyat tersebut malah diprivatisasi dan legal diliberalisai di sistem ini.


Padahal Indonesia bukanlah negara yang miskin sumber daya, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusianya. Namun semua itu tidak termanfaatkan dengan baik. Dari berbagai aspek Indonesia dengan banyak potensi baik itu potensi bahari, dengan perairan dan kelautannya, hutan yang luas, pertambangan sampai dengan gas bumi yang melimpah akan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya.


Semua itu malah diperjualbelikan oleh negara kepada asing dan aseng sehingga menempatkan keuntukan pada segelintir individu dan korporasi. Sisanya rakyat hanya mendapat limbah dan sebab kerusakan alam saja.


Islam Solusi Tuntas


Kegagalan demi kegagalan kapitalisme dalam menghadapi masalah dan krisis menjadi bukti bahwa sistem yang lahir dari kelemahan akal manusia tidak akan pernah bisa dijadikan acuan dalam hidup. Sebaliknya kita harus mencari alternatif lain yang mampu menuntaskan masalah-masalah yang ada.


Islam dengan kesempurnaannya sebagai agama mempunyai aturan yang jelas, mulai dari aturan bangun tidur sampai dengan membangun negara, juga tak terlepas dengan masalah kemiskinan dan stunting yang tengah mendera.


Islam dengan sistem ekonominya akan mengatur hak dan kepemilikan menjadi tiga, yaitu kepemilikan individu, umum, dan negara. Dengan ini, ada dua poin yang harus dilakukan;


Pertama, SDA seperti rumput, air, pembangkit listrik, danau, laut, jalan raya, ataupun barang tambang melimpah (emas, batu bara, dan minyak bumi) yang merupakan kepemilikan umum tidak boleh diprivatisasi atau dimiliki segelintir orang saja. Pengelolaan SDA tersebut akan dilakuakan oleh khalifah sebagai pemimpin dalam negara yang menerapkan sistem Islam.


Hasilnya akan dikembalikan dalam bentuk pembangunan infrastruktur dan fasilitas umum seperti fasilitas kesehatan, pendidikan, perpustakaan, rumah sakit dan lainnya tersedia secara cuma-cuma alias gratis oleh negara yang menerapkan sistem Islam.


Kedua, negara wajib untuk memastikan dan menjamim kebutuhan dasar rakyatnya terpenuhi dengan baik. Negara dalam Islam akan melakukan sensus guna memastikan para kepala keluarga bisa menafkahi tanggungannya, sekaligus menyediakan lapangan pekerjaannya.


Jika kepala keluarga dan kerabatnya tidak sanggup menafkahi, maka negara wajib membantu rakyatnya untuk bisa memenuhi kebutuhan dasarnya. Kebutuhannya pun harus layak, seperti perumahan, pakaian, termasuk pangannya. Semua harus layak konsumsi dan bergizi. Dari sinilah, permasalahan kemiskinan dan stunting bisa terselesaikan.


Masalah-masalah serupa juga akan mustahil diselesaikan oleh sistem kapitalisme. Sebab kerusakan sudah muncul dan melekat pada sistem itu sendiri, sehingga sebagaimanapun elok dikemas akan tetap sama dan merusak pada akhirnya.


Hal-hal tersebut seharusnya menyadarkan kita untuk secepatnya meninggalkan sistem rusak dan mengambil Islam sebagai solusi tuntas dari Sang Khalik. Jalan satu-satunya hanyalah menjadikan dan menerapkan Islam secara kafah sebagai aturan yang haq untuk mengatur manusia dan alam semesta sebagaimana yang Allah Swt. perintahkan. 


Wallahu a'lam bisshawab

×
Berita Terbaru Update