Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Eksploitasi Manusia Masih Marak dalam Negeri

Selasa, 14 Februari 2023 | Selasa, Februari 14, 2023 WIB | 0 Views Last Updated 2023-02-14T10:05:22Z

 


Faktor Ekonomi sebagai penyebab utama adanya Eksploitasi Manusia


Dalam Islam, prioritas utama pemimpin adalah melindungi setiap warga negaranya


Oleh Rismawati, S.Pd 

(Pegiat Literasi)


Siddiq-news.com -- Beberapa hari yang lalu warga Sultra digegerkan dengan sebuah berita yang memilukan. Bagaimana tidak, empat wanita sekaligus hampir saja menjadi sasaran empuk bagi para manusia jahil yang bergelut dalam perdagangan manusia. Ke empat wanita itu, berniat untuk menjadi TKW di Negari Asing, namun naasnya mereka justru tertipu dengan iming-iming orang yang telah menjanjikannya perkerjaan tersebut.


Dilansir dari Kendaripos[dot]fajar[dot]co[dot]id (03/02/2023) bahwa di Sulawesi Tenggara hampir saja terjadi eksplorasi perdagangan manusia (human traffcking) terhadap empat warga negaranya yang bernama Isnawati umur 38 tahun warga Konsel Kec. Angata Desa Motaha dan Susi (39) dari Kec. Benua Desa Benua Konsel. Serta dua orang dari Kabupaten Konawe yaitu Lala Santriani umur 29 tahun warga Kec. Wawotobi Desa Anggota dan Anis (34) dari Kec. Pondidaha Desa Wonua Monapa. Awalnya mereka di iming-iming kan pekerjaan di Jazirah Arab, Timur Tengah. Namun, bukannya diberangkatkan segera, mereka justru diberi tempat tinggal yang berpindah-pindah sebelum diberangkatkan. Hingga suami Isnawati bernama Agus umur 53 tahun mencurigai jikalau istrinya diberangkatkan secara ilegal, karena bukan hanya tempat tinggal istrinya yang pindah-pindah bahkan HP mereka pun disita.


Oleh karena itu, Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sultra, bernama La Ode Askar, mengatakan bahwa peristiwa itu terungkap berkat laporan Agus (53), suami salah satu korban, kepada BP3MI Sultra. "Pada hari Senin 30 Januari 2023, Agus melaporkan istrinya sebagai calon pekerja migran Indonesia (PMI) berada dalam masalah," ujar Askar di ruang kerjanya, Kamis (2/2).


Fakta di atas memperlihatkan kepada kita, betapa miris kondisi negeri ini, walau hidup di tengah-tengah limpahan Sumber Daya Alam di Indonesia ternyata tak mampu mengubah nasib miskin penduduknya, hingga di antara  mereka harus nekat mendaftarkan diri menjadi TKW tanpa mengetahui keaslian pengurusan TKI. Alhasil, mereka harus menjadi korban atas kejahatan tangan manusia yang tak bertanggung jawab. 


Semua karena faktor ekonomi. Pelaku melakukan kejahatan karena didorong oleh faktor ekonomi begitu pula dengan korban. Mereka harus tertipu karena dorongan ekonomi yang membuat mereka tak berdaya harus meninggalkan anak dan suaminya untuk bekerja di negeri seberang. 


Fakta ini hanyalah sebagian kecil yang terungkap. Di luar sana masih banyak penderitaan para TKI yang sedang mencari nafkah di negeri orang. Lagi-lagi karena kebutuhan ekonomi yang tidak terpenuhi, mendorong mereka harus melakukan perjalanan jauh demi mendapatkan pekerjaan. 


Dalam situasi seperti ini seharusnya negara memberi andil dalam penanganan perekonomian rakyat. Tugas pemerintah adalah memberikan keamanan dan kesejahteraan kepada rakyatnya. Oleh karena itu, sepatutnya pemerintah menyediakan lapangan pekerjaan untuk warganya yang pengangguran, agar tak ada lagi warga Indonesia yang harus tertatih mencari kerja di negara tetangga. 


Selain itu maraknya tenaga migran ilegal, jelas menunjukkan abainya negara dalam menangani warga negaranya. Padahal tugas negara juga memberi keamanan pada seluruh warganya. Oleh karena itu pemimpin negara harus melindungi setiap warga negaranya dengan cara memberi hukuman yang berat kepada para pelaku agar tak ada lagi kejadian seperti yang menimpa keempat warga Sulawesi Tenggara tersebut.


Sebagaimana dalam sistem Islam, pemimpin yang selalu takut kepada Allah dalam setiap langkahnya akan memiliki kepedulian dengan warganya. Pemimpin dalam Islam sangat menyayangi warganya bahkan menganggap warganya seperti anak-anaknya yang harus dipenuhi kebutuhannya. Oleh karena itu, pengelolaan negara dalam Islam sangat hati-hati. Seluruh Sumber Daya Alam dikelola oleh negara dan hasilnya dimasukkan ke Baitul Mal. Kemudian disalurkan kepada rakyat yang membutuhkan. Negara juga akan membangun lapangan pekerjaan untuk mempekerjakan para suami atau pemuda-pemuda pengangguran. Sehingga tidak akan ada lagi istri yang harus jadi TKW atau suami yang harus menjaga anak sedangkan istri yang mencari nafkah. Sebab dalam Islam sendiri, tanggung jawab mencari nafkah jatuh kepada suami bukan istri. 


Oleh karena itu, negara punya tanggung jawab memberi pekerjaan kepada para suami, serta melindungi seluruh warganya dari kejahatan yang mengintai dan siap menerkam mereka kapan saja. Karena itu, dalam kepemimpinan Islam prioritas utama pemimpin adalah melindungi setiap warga negaranya. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw.

“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya kaum muslim tanpa hak.” (HR. Nasai dan Tirmidzi)


Hadis di atas adalah gambaran tugas pemimpin yang harus betul-betul menjaga keamanan seluruh rakyatnya. Namun, semua itu hanya akan terwujud kala negara ada dalam pengaturan sistem Islam. 

Wallahu a’lam bissawab

×
Berita Terbaru Update