Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ironi Valentine Day

Sabtu, 11 Februari 2023 | Sabtu, Februari 11, 2023 WIB | 0 Views Last Updated 2023-02-11T08:29:24Z


Perayaan Valentine Day Marak Dilakukan Kaum Muda-mudi. Sebagai Bentuk Hari Berkasih Sayang


Padahal di Balik V-day Tersimpan Budaya Rusak yang Berasal dari Barat


Penulis : Siti Nurtinda Tasrif

(Aktivis Dakwah Kampus)


Siddiq-news.com | Kasih sayang merupakan sebuah fitrah. Tidak dapat dipungkiri oleh siapapun. Karena hal tersebut tercakup dalam potensi kehidupan manusia yakni naluri dan kebutuhan jasmanai. Sedang kasih sayang merupakan salah satu bagian dari naluri yaitu naluri berkasih sayang. Setiap manusia tentu mendambakan seseorang yang akan memberikannya kasih sayang atau sebaliknya. Kasih sayang itu bisa datang dari orangtua, saudara, teman-teman dan sebagainya. 


Naluri berkasih sayang tidak menuntut untuk dipenuhi, tetapi cenderung memberikan kegelisahan kepada yang merasakannya. Karena naluri ini tidak mendatangkan kematian seperti makan, minum, tidur dan bernafas. Oleh sebab itulah, setiap individu senantiasa mengungkapkan perasaan kepada orang yang dituju agar tidak gelisah lagi. Karena, ketika tidak gelisah maka perasaan akan lebih tenang termasuk melakukan aktivitas yang lainnya.


Namun, apa jadinya jika naluri berkasih sayang diposisikan secara liar. Bahkan dalam setiap tahun selalu ada perayaan hari kasih sayang (Valentine Day). Perayaan ini sudah menjadi kebiasaan yang sudah lebih dahulu disahkan oleh dunia. Sehingga tak ayal seringkali dilakukan. Bahkan para pebisnis berlomba-lomba membuat berbagai produk yang sesuai dengan perayaan tersebut. Sehingga bisa menjadi bisnis yang menguntungkan bagi setiap produsen.


Di samping itu, masyarakat wajib mengetahui valentine day ini seperti apa. Sehingga tidak langsung menelan setiap informasi atau hal-hal yang viral kemudian merebak di tengah-tengah masyarakat.


Valentine day sendiri diambil dari budaya Barat, lalu diadopsi oleh negara-negara Muslim saat ini. Sebagaimana yang penulis kutip dari Media Insertlive[dot]com (04/02/2023) bahwasanya valentine day bermula dari Pendeta Roma bernama Valentine. Kala itu, Kaisar Claudius II memutuskan untuk melarang pernikahan untuk pria muda karena akan dijadikan prajurit. 


Maka, pria muda dan lajang dinilai tak perlu meninggalkan keluarganya saat perang. Keputusan itu membuat Valentine berang. Ia menganggap bahwa keputusan sepihak itu tak adil. Secara diam-diam, Valentine menikahkan pasangan muda hingga akhirnya diketahui oleh Claudius. Hal itu membuat Valentine dipenjara dan dihukum mati pada 14 Februari 270 Masehi. Hari kematian itu menandai awal mula dirayakannya hari valentine setiap tanggal 14 Februari. Dalam versi ini, pada abad ke-5 Masehi, Paus Roma Gelasius menetapkan hari valentine setiap tanggal 14 Februari sebagai bentuk memperingati kematian Valentine.


Semakin sadarlah masyarakat ketika mengetahui bahwa valentine day ini atau yang biasa dikenal hari kasih sayang berasal dari Barat. Sehingga budaya ini dianggap bagus oleh sebagian masyarakat, padahal jelas-jelas merusak. Apalagi keberadaan hari kasih sayang ini sangat mempengaruhi pergaulan di negara saat ini khususnya negara Indonesia dengan remaja-remaja yang serba bebas di atas.


Maka, tidak akan menutup kemungkinan remaja akan terserang kasus seks bebas akibat ketiadaan aturan yang tegas dalam menangani kasusnya. Hal ini akan menjadikan masyarakat merasa aktivitas ini tidak merugikan siapapun.


Hal inilah yang berbahaya, karena dapat dipastikan masyarakat terkhusus remaja akan berlomba-lomba untuk  menyalurkan kasih sayang kepada pasangannya bahkan lebih buruk lagi dengan cara yang lebih dilaur batas yaitu seks bebas. Maka tidak heran, barang haram seperti alat-alat kontrasepsi terjual dengan jumlah yang cukup banyak. 


Dari sini, dapat kita lihat betapa buruknya akibat yang ditimbulkan oleh hari kasih sayang ini. Berupa membebaskan untuk berpacaran, jalan-jalan terutama seks bebas hingga ke hotel-hotel. Ironisnya ketika ada oknum-oknum yang melarang, sebagian remaja malah menentang dengan alasan melanggar kebebasan HAM. Betapa buruknya budaya Barat ini, bahkan tidak ada nilai yang menunjukkan sisi kemuliaan manusia sebagai makhluk sempurna yang diciptakan oleh Allah Swt..


Budaya ini juga semakin melemahkan kaum Muslim dari akidahnya yang hakiki. Dan menjauhkannya dari agamanya, yang tentu saja akan menjaga kehidupannya. Di sisi lain akan menentang segala aturan yang dapat mengancam kebebasannya yaitu aturan-aturan Islam yang bertentangan dengan aktivitas berkasih sayang ala Barat yakni berzina. Sedangkan hal ini berbanding terbail dengan Islam.


Islam memandang bahwa valentine day merupakan budaya Barat dan haram hukumnya mengambilnya. Bahkan dalam hadis riwayat Abu Dawud disebutkan,


"Dari Abdullah bin Umar berkata, bersabda Rasulullah saw.: "Barang siapa yang menyerupakan diri pada suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka"."(HR. Abu Dawud, No. 4031)


Di samping itu, Allah juga berfirman bahwa janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk. 


Oleh karena itu, hari kasih sayang ini tidak memiliki nilai yang dapat diambil sebagai landasan yang digunakan untuk menerapkan budaya Barat yang satu ini. Apalagi dilihat dari dampaknya, lebih banyak sisi negatif daripada postif, dan dimanfaatkan sebagai penglarisan bisinis seperti hadiah atau coklat. Hal ini begitu menjamur dalam kehidupan remaja hingga menjerumuskan pada pergaulan bebas bahkan menjurus pada seks bebas.


Hal ini sangat bertentangan dengan nilai-nilai ajaran agama Islam. Yang melihat bahwa naluri berkasih sayang adalah naluri yang suci dan cara penerapannya dengan cara yang suci pula. Bagaimana seorang yang mencinta akan tetap suci karena cintanya. Dan tidak mengotorinya dengan aktivitas yang bertentang dengan ajaran agama.


Maka, menjadi tujuan bersama untuk membuat masyarakat tidak lagi menjadikan hari kasih sayang sebagai hari yang istimewa dan menyalurkan kasih sayang. Padahal jika menginginkannya, sebenarnya bisa saja menyalurkan kasih sayang setiap hari tidak perlu harus ada hari-hari besar seperti ini.


Di sisi lain, berusaha membangun kesadaran umat bahwa sebelum mengambil kebudayaan harus mengetahui landasan keberadaannya juga asalnya dari mana. Oleh karenanya tidak langsung mengadopsinya atas nama kasih sayang. Padahal ia hanya racun berbalut madu, yang akan membunuh suatu saat nanti. Wallahu a'lam bi ash-shawwab.

×
Berita Terbaru Update