Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Rusaknya Moral Anak Bangsa, Efek Buruk Sekularisme

Sabtu, 11 Februari 2023 | Sabtu, Februari 11, 2023 WIB | 0 Views Last Updated 2023-02-11T07:56:51Z


Seorang Anak Perempuan Usia TK Diperkosa Secara Bergiliran oleh Tiga Bocah SD Usia 8 Tahun


Sungguh Rusak Moral Anak Bangsa, Sebagai Dampak Diterapkannya Sistem Rusak Kapitalisme Sekuler


Penulis : Nurul Bariyah

(Ibu Rumah Tangga dan Member AMK)


Siddiq-news.com |Astagfirullahalazim, bagai tersambar petir di siang bolong pertama membaca berita ini. Kaget, heran, ngeri, dan rasanya tidak percaya. Seorang anak TK di Mojokerto diduga menjadi korban perkosaan tiga anak sekolah dasar. Korban mendapatkan perlakuan tak senonoh secara bergiliran.


Kasus tersebut, saat ini tengah ditangani oleh Polres Mojokerto, setelah orangtua korban melaporkan kejadian kepada Kepolisian Resort Mojokerto.


Dilansir dari media Liputan6,  kuasa hukum korban memaparkan kronologi kejadian yang terjadi 7 Januari 2023 lalu. Menurutnya pelaku yang terdiri dari tiga orang anak usia 8 tahun merupakan tetangga korban dan teman bermain korban.  Mereka mengajak korban ke rumah kosong, kemudian di sana para pelaku melakukan perbuatan bejatnya dengan memaksa korban tiduran dan membuka celananya. Kemudian mereka menidurinya secara bergantian. Saat ini korban mengalami trauma setelah kejadian tersebut.


Sungguh menggeramkan, juga mengherankan, anak usia sekolah dasar bisa-bisanya punya pikiran untuk berbuat seperti itu, bahkan ini bukan kejadian yang pertama kali. 


Sudah semakin rusaknya mental dan perilaku anak bangsa, bahkan anak kecil pun sudah menjadi pelaku kejahatan seksual.


Mengapa hal ini bisa terjadi? Kalau kita perhatikan masyarakat saat ini, kejadian seperti ini pemicunya adalah pertama, dari tontonan dewasa yang bebas ditonton oleh siapa saja termasuk anak-anak. Faktanya tontonan yang ada saat ini, selalu mengarah kepada pornoaksi dan juga pornografi. Kedua, tidak adanya pengawasan dari orangtua dan juga negara mengenai tontonan yang baik. Yang ketiga, tidak adanya dasar pemahaman yang baik tentang agama untuk mengetahui mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Agama harusnya menjadi standar perbuatan, karena tentu mereka tidak mau melakukan perbuatan dosa. 


Di dalam kehidupan kapitalis sekularisme segala sesuatu berjalan semaunya, bebas tanpa aturan hanya mementingkan nilai materi dan asas manfaat. Agama dijauhkan dari kehidupan sehari-hari dan ditinggalkan.


Anak SD menjadi pelaku kejahatan seksual adalah menjadi bukti nyata bobroknya masyarakat. Lalu di mana peran negara saat ini? Negara seharusnya tidak boleh abai menghadapi kenyataan seperti ini. Negara berkewajiban mengatur rakyat di setiap aspek kehidupan. Dalam hal ini hanya negara yang bisa mengawasi dan mengatur media untuk menyuguhkan  jenis tontonan yang baik. Menyaring mana yang tidak baik, dan membuat aturan yang tegas mengenai hal itu.


Melansir dari media Republika (Minggu 22 Januari 2023), KPAI menerima hampir 5000 aduan sepanjang tahun 2022. Kasus tertinggi adalah kasus kejahatan seksual yang korbannya adalah anak-anak. Menurut Ketua KPAI, Al Maryati solihah, data tersebut mengindikasikan anak Indonesia rentan menjadi korban kejahatan seksual dengan berbagai latar belakang, situasi dan kondisi anak di mana berada.


Sungguh miris, anak-anak yang seharusnya dilindungi malah banyak menjadi korban kejahatan orang dewasa. Dalam kasus ini, anak-anak justru menjadi pelaku. Perhatian dan pengawasan orangtua seharusnya dipertanyakan, mengapa anak bisa seperti itu, apakah orangtuanya tidak mengawasi?


Inilah yang menjadi akar pokok permasalahan. Hidup yang tidak diatur oleh agama sudah terbukti nyata membawa kerusakan dan kekacauan. saat ini agama hanya dianut dari sisi ibadah mahdhah dan bersifat individu semata, sementara ghayr mahdhah dan urusan masyarakat hingga bernegara sistem hidup Kapitalisme-lah yang dipakai. Padahal Islam adalah agama dan lengkap memiliki solusi dari setiap masalah kehidupan.


Ketika Islam diambil secara sempurna maka keselamatan dan kemaslahatanlah yang berlaku. Sebaliknya di saat Islam dipilah dan ditinggalkan sebagiannya, yang terjadi adalah bermunculanlah banyak kerusakan dan madharat.

 

Dalam Islam anak adalah amanah yang harus dijaga oleh orang tua. Mereka dididik dan diasuh  berdasarkan pada ajaran Al-Qur'an dan hadis Rasulullah saw.. Mereka dididik secara baik dengan segala ilmu terutama ilmu agama. 


Anak-anak diberi pendidikan akidah secara benar, mengenai hubungan dengan Allah di manapun berada dan kapanpun. Bahwa Allah selalu mengawasi kita, karena Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui. Juga 

mengenai dosa dan apa akibatnya jika melakukan perbuatan dosa. Hingga dengan sendirinya akan terkontrol untuk tidak melakukan sesuatu yang berdosa. Karena takut akan pengawasan dan siksa Allah. 


Allah Swt. berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu ...." (QS. At-Tahrim ayat 6)


Anak-anak juga mempunyai hak mendapat asuhan dengan baik. Anak merupakan anugerah dan amanah untuk orangtua, hingga orangtua bertanggungjawab memenuhi hak anak agar tumbuh dan berkembang dengan baik dan sehat, lingkungan juga asupan gizi yang baik.


Rasulullah adalah teladan yang baik dalam mendidik dan mengasuh anak. Rasulullah selalu lembut terhadap anak, Beliau mengedepankan cinta daripada amarah. Nabi mencontohkan sikap mulia. Kepada anak ia sangat penyayang, selalu mencium anak lalu mendokan kebaikan. 


Anjuran Rasulullah diperdetail oleh Ali bin Abi Thalib, sahabatnya. Konsep Ali mendidik anak relevan diterapkan orangtua bijak. “Ali menyarankan, 7 tahun pertama didik anak layaknya raja, 7 tahun kedua didik anak layaknya tawanan perang, dan 7 tahun ketiga didiklah anakmu bagaikan seorang sahabat,” 


Konsep Ali membuktikan bahwa jauh sebelum Sigmund Freud (Psikodinamika asal Ceko 1856-1939), Islam telah lebih dulu menemukan teori  pskilogi anak kekinian.  Seperti teori yang dikemukakan Sigmund yaitu teori golden age (usia emas) anak di usia 0-5 tahun pertama, bahwa di usia ini rawan membentuk kepribadian anak. Di kehidupan jiwa yang rawan ini orangtua harus menanamkan nilai-nilai agama, bersosial, dan akhlaq mulia. Dan dalam Islam hal tersebut ditanamkan dengan cara yang baik dan penuh kasih sayang.


Demikianlah begitu detail Islam mengatur kehidupan dan persoalannya. Kita hanya harus kembali kepada aturan Islam menghadapi segala kerusakan moral dan perilaku anak bangsa saat ini. Agar semua menjadi baik dan terkendali.


Waallahu a'lam bi-ash shawwab.

×
Berita Terbaru Update