Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kerja Di Negeri Tetangga, Antara Bahagia atau Bahaya

Rabu, 17 Mei 2023 | Rabu, Mei 17, 2023 WIB | 0 Views Last Updated 2023-05-17T09:03:49Z

 


Karena dorongan ekonomi, terpaksa membuat mereka mencari kerja hingga ke negara tetangga. Didukung sulitnya mencari lapangan kerja di tanah air


Sistem Islam selalu memprioritaskan kesejahteraan rakyat dengan menyediakan lapangan kerja untuk rakyat


Oleh Rismawati. S.Pd. 

Pegiat Literasi dan Pelajar AMK


Siddiq-news.com--Ekonomi memang selalu menjadi polemik utama bagi setiap insan. Sebab dalam hidup ini, semua insan tak bisa di pisahkan dengan masalah ekonomi. Oleh karena itu, Ibnu Umar ra meriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam berkata yang artinya “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati esok pagi.”

Oleh karena itu, manusia akan selalu bekerja demi menghidupi dirinya selama hidup di dunia sembari beribadah untuk akhiratnya. Namun, kadang kala untuk mencari kerja tidak selalu semudah yang kita bayangkan. Terkadang bekerja di negeri orang menjadi pilihan, mengingat kondisi di negeri sendiri kekurangan lapangan pekerjaan. Namun, tidak semua orang mendapatkan keberhasilan saat mencari kerja di negeri tetangga, sebab ada juga yang harus menelan pahitnya ditipu oleh pengurus TKI, dapat siksaan oleh majikan bahkan ada pula yang sampai dijual oleh pengurus. 

Dilansir dari Kompas[dot]com, (04/05/2023) bahwa 20 warga negara Indonesia diduga disekap di Myanmar bagian Myawaddy karena menjadi korban TPPO (Tindak Pidana Perdagangan Orang) yang berawal dari modus dua pelaku yang menawarkan pekerjaan di Myanmar kepada 20 WNI, kedua pelaku sengaja melancarkan modusnya karena mereka telah memiliki jaringan Internasional terkait TPPO.

Selain itu, Retno Marsudi selaku Menteri Luar Negeri mengungkapkan dalam jumpa persnya, bahwa pemerintah Indonesia telah berhasil memulangkan 1.138 masyarakat Indonesia yang diperkerjakan di online scam dari Negeri Kamboja yang ternyata ke 1.138 orang tersebut justru dijadikan sebagai korban perdagangan manusia di Kamboja. Bukan hanya itu, Menteri Retno juga mengungkapkan bahwa tiga tahun terakhir ini ternyata pemerintah telah menangani 1.841 kasus online scam yang terjadi di berbagai negara tetangga dan korbannya banyak dari warga negara Indonesia. (VOA Indonesai[dot]com, 05/05/2023)

Dari berita di atas bisa dilihat betapa daruratnya kasus perdagangan manusia di Asia yang rata-rata modusnya adalah menjanjikan pekerjaan kepada para korban. Alhasil, warga negara Indonesia yang merasa terdesak dengan perekonomian mereka yang tidak mencukupi, jelas akan tergiur dan tergoda dengan pekerjaan yang di janjikan. Semua itu terjadi tidak lain karena dorongan ekonomi yang terpaksa membuat mereka mencari kerja hingga di negara tetangga. Didukung pula oleh lapangan kerja yang kurang di tanah air (Indonesia). 

Sungguh ironis sekali kasus yang dihadapi oleh negara saat ini. Bagaimana tidak, negara Indonesia adalah negara yang dikenal kaya akan sumber daya alamnya. Namun kenyataannya tak mampu mencukupi lapangan pekerjaan untuk warga negaranya sendiri. Semua terjadi sebab negara tak memberi kesempatan kepada para generasi mudah untuk mengelola harta kekayaan negara, namun sebaliknya justru membiarkan negara-negara asing masuk dan menguasai hampir sebagian sumber daya alam yang ada di Indonesia.

Alhasil, keadaan inilah yang membuat warga negara Indonesia justru kehilangan kesempatan untuk bekerja di negaranya sendiri. Karena itu, mereka lebih memilih mencari kerja di negeri tetangga tanpa tahu kondisinya dan tanpa tahu kebenaran dari para pengurus TKI. Di pikiran mereka hanyalah bagaimana cara mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka.

Sistem kapitalis memang berbanding terbalik dengan sistem Islam. Sistem Islam selalu memprioritaskan kesejahteraan rakyat dengan menyediakan lapangan kerja untuk rakyat yang ada dalam naungan daulah Islam. Bahkan dalam sistem Islam dilarang keras menyerahkan pengelolaan tambang-tambang milik daulah juga tidak ada kerja sama antara negara asing dengan daulah. Dengan begitu takkan ada rakyat dalam daulah Islam yang keluar negari hanya demi mencari nafkah. Sebab kalaupun mereka kekurangan perekonomian maka negara punya kewajiban untuk memenuhi seluruh kebutuhan warga negaranya, dengan mengambil hasil kekayaan alam yang dikelola sendiri oleh daulah dan disimpan di baitulmal.

Sistem Islam juga sangat menjaga keamanan rakyatnya. Sebagaimana ketika Rasulullah saw. menjadi pemimpin selalu memberi jaminan keselamatan untuk darah dan harta setiap warga negaranya tanpa memprioritaskan yang muslim saja, namun non muslim pun diberi jaminan uang sama.

Perlakuan Rasulullah saw. terhadap rakyatnya itu dilanjutkan pula oleh seluruh pemimpin-pemimpin dalam daulah Islam setelah Rasulullah saw wafat. Karena itu, dianggap kezaliman, jika kewajiban ini dilalaikan oleh negara dengan mengalihkan bebannya pada rakyat. Karena hal itu akan menyelisihi hukum syarak. 

Rasulullah Saw bersabda,

الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Imam adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR. Bukhari)

Wallahualam bissawab.

×
Berita Terbaru Update