Berburu Kursi Panas Di Pilkada, Rakyat Diperdaya?

 


Dalam pemerintahan Islam, semua hukum harus sesuai dengan syariat, hukum-hukum Islam

Dan pemimpinnya sadar akan amanah yang berat dengan pertanggungjawaban yang luar biasa di hadapan Allah


Penulis Gyan Rindu

Pegiat Literasi 


Siddiq-news.com, OPINI -- Pemilihan kepala daerah (Pilkada) akan segera dilaksanakan. Banyak yang sudah mendaftarkan diri menjadi kepala daerah. Baik melalui jalur independen atau melalui partai politik.


Hasyim Asy'ari, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), mengatakan, calon anggota legislatif (caleg) terpilih pada Pemilu 2024 tidak perlu mengundurkan diri bila mengikuti Pilkada Serentak 2024. Dia menjelaskan bahwa caleg terpilih yang wajib mundur dari jabatannya adalah anggota DPR/DPD/DPRD untuk jajaran provinsi/kabupaten/kota Pemilu 2019 dan terpilih kembali dalam Pemilu 2024. (tirto.id,2024/05/10)


Pemilihan kepala daerah menjadi salah satu pesta demokrasi. Biasanya para calon kepala daerah berbondong-bondong mencari dukungan rakyat dengan berbagai cara. Salah satunya dengan memberikan janji-janji yang menggiurkan kepada rakyat jika nantinya berhasil menjabat. Namun, terkadang itu semua hanya sekedar janji belaka. Tak sedikit yang lupa akan janjinya ketika sudah mendapatkan singgasana yang diinginkan. Rakyat kembali merasakan getir pahit kenyataan yang tak sesuai dengan janji-janji yang diucapkan.


Di dalam sistem demokrasi kapitalis banyak orang yang ingin mengajukan diri agar bisa masuk ke ruang lingkup pemerintahan dengan berbagai alasan. Mereka tidak menyadari amanah dan tanggung jawab yang begitu besar kepada rakyat.


Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw., “Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpin. Penguasa yang memimpin rakyat banyak akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, istri pemimpin terhadap keluarga rumah suaminya dan juga anak-anaknya. Dia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap mereka, dan budak seseorang juga pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadapnya, ketahuilah, setiap kalian adalah bertanggungjawab atas yang dipimpinnya." (HR Bukhari)


Begitu berat tanggung jawab menjadi seorang pemimpin, sampai-sampai membuat Umar Bin Khattab Radhiyallahu anhu berkeliling setiap malam untuk melihat rakyatnya. Apakah ada rakyatnya yang masih kelaparan atau tidak. Dan beliau sendiri yang membawa makanan tersebut untuk diberikan kepada rakyatnya yang kelaparan. Beliau tahu amanah yang begitu berat dan beliau harus pertanggung jawabkan dihadapan Allah. Begitulah sejatinya pemimpin seharusnya.


Berbeda dengan pemimpin di dalam sistem demokrasi. Mereka berbondong-bondong masuk dalam pemerintahan untuk mencari keuntungan semata. Mencari jabatan, kekuasaan, dan penghasilan. Inilah sebabnya banyak korupsi yang terjadi di dalam pemerintahan negeri ini.


Berbeda jauh bukan dengan sistem pemerintahan Islam? Karena di dalam pemerintahan Islam, semua hukum harus sesuai dengan syariat, hukum-hukum Islam. Dan pemimpinnya sadar akan amanah yang berat dengan pertanggungjawaban yang luar biasa di hadapan Allah.


Bahkan di dalam pemerintahan Islam, siapa yang mengajukan diri sebagai pemimpin, baik menjadi kepala negara atau daerah, justru tidak akan diterima meskipun mereka memiliki kapastitas untuk itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Sesungguhnya kami, demi Allah tidak akan menyerahkan pekerjaan ini kepada seorang pun yang memintanya, atau seorang pun yang sangat menginginkannya.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 7149 dan Muslim no. 1733)


Hal ini dilakukan agar tidak ada rasa dan hasrat keserakahan dalam mengemban jabatan tersebut. Islam selalu mengikat segala hal berdasarkan syariat agar pemimpin senantiasa melakukan sesuatu untuk kepentingan rakyat dan demi kesejahteraan rakyat dengan rasa tulus. 


Dengan dipisahkannya agama dari kehidupan membuat orang lalai dan lupa akan tanggung jawab periayahan kepada rakyat. Karena mereka tidak memiliki pembatas, dan tidak memiliki rasa takut kepada Allah tentang amanah yang mereka emban.


Perbedaan inilah yang harus kita telaah. Bahwa Islam adalah sebaik-baik hukum. Tidak hanya mengatur kehidupan pribadi kita, ibadah kita, tapi juga mengatur segala aspek termasuk bernegara dan kepemerintahan. Semua itu agar kita mendapatkan hak-hak kita sebagai rakyat. Mendapatkan keamanan, keadilan, dan kesejahteraan sesuai dengan hukum-hukum Allah Azza Wa Jalla.

Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 7148)

Wallahualam bissawab. []

Berburu Kursi Panas Di Pilkada, Rakyat Diperdaya?

Tags
[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.