Kok Bisa, Kecil-kecil Sudah Jadi Pelaku Kriminal?

Pendidikan hari ini menghasilkan generasi hedonis, individualis, materialis, dan sering disebut dengan generasi stroberi atau kristal

Disenggol sedikit langsung muncrat atau pecah


Penulis Verawati S.Pd

Pegiat Literasi


Siddiq-news.com, OPINI -- Bocah laki-laki berinisial MA (6 tahun) asal Sukabumi menjadi korban pembunuhan, tidak hanya dibunuh anak yang baru mau duduk disekolah dasar ini juga menjadi korban kekerasan seksual sodomi. (Sukabumiku.id, 02/05/2024)


Ngelus dada dan nafas panjang, baca berita di atas. Tambah panjang lagi nafasnya, karena pelakunya hanya seorang diri dan masih berusia 14 tahun. Aneh tapi nyata, kejahatan kini pelakunya anak-anak. Kok bisa anak-anak sudah jadi pelaku kriminal? Ke mana orang tuanya?

Pertanyaan di atas pasti muncul di benak kita. Sebab, alaminya anak-anak tidak berperilaku seperti itu. Mereka ada di dalam kondisi aman di rumah dan bersama dengan orang-orang yang mengasuh dan melindunginya.

Namun faktanya hari ini anak-anak tumbuh bak monster. Saat tumbuh besar malah menjadi problem, bahkan mengancam dan membahayakan orang lain. Dulu kita hanya mendengar kejadian ini di luar negeri atau di kota. Hari ini pelakunya dekat dengan kita hingga ke desa dan hampir di seluruh penjuru negeri.  

Kejadian ini pun bukan kali pertama. Kejadian yang sama dan bentuk kriminal lainnya sudah banyak terjadi. Ribuan anak yang menjadi pelaku kriminal sudah banyak yang dihukum atau masuk penjara. Tapi tidak membawa efek jera, bahkan jumlahnya makin banyak. Bahkan mungkin seperti gunung es, makin ke bawah makin banyak. Karena banyak kasus juga yang mungkin tidak dilaporkan.

Berdasarkan laporan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Ditjenpas Kemenkumham), jumlah tahanan anak di Indonesia sebanyak 1.475 orang hingga 29 Agustus 2023. Rinciannya, 1.454 tahanan anak adalah laki-laki, sedangkan 21 lainnya merupakan perempuan.(dataindonesia.id, 30/08/2023)

Kenapa kasus kriminalitas pada anak makin banyak? Ada banyak faktor, di antaranya yaitu kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orang tua. Biasanya kondisi ini disebabkan orang tua terlalu sibuk dengan pekerjaan, ekonomi yang rendah, orang tua broken home dan orang tua yang membebaskan mengakses internet dengan diberikan gadget sendiri.

Selain itu, faktor lingkungan juga sangat berpengaruh. Seperti teman, lingkungan sekolah, dan negara.  Semua faktor ini dipengaruhi oleh sistem hidup yang diterapkan saat ini yaitu kapitalisme sekular. Di mana sistem ini mengesampingkan peran agama dalam kehidupan. Artinya agama tidak lagi jadi pijakan dalam berbuat. Ciri khas sistem ini yaitu aturan yang dipakai adalah buatan oleh segelintir orang. Yaitu para pemilik modal atau kapital. Maka yang menonjol dalam sistem ini adalah sistem ekonomi kapitalisme dan tujuan hidup yang hanya meriah kebahagiaan materi semata.

Pemahaman-pemahaman di atas kemudian masuk ke semua lini kehidupan, termasuk pendidikan. Pendidikan hari ini akhirnya hanya terfokus pada menghasilkan lulusan yang siap bekerja. Jauh dari tujuan pendidikan itu sendiri yaitu memanusiakan manusia, menanamkan adab, akhlak, dan nilai agama yang kuat. Sehingga kelak generasi mereka menjadi generasi yang kuat dalam menghadapi zaman dan bahkan mampu memimpin dunia. 

Sebaliknya pendidikan hari ini menghasilkan generasi hedonis, individualis, materialis, dan sering disebut dengan generasi stroberi atau kristal. Disenggol sedikit langsung muncrat atau pecah. Jadi tak heran ketika generasi saat ini kecil-kecil jadi pelaku kriminal. Karena sistemnya memang mencetak generasi seperti itu, lemah dan tak mampu menghalau berbagai serangan. Termasuk serangan budaya dan gaya hidup barat.

Berbeda dengan sistem Islam, yang menjadikan agama sebagai pijakan. Sistem Islam mengajarkan bahwa kehidupan di dunia ini bertujuan untuk ibadah. Menjalankan hidup sesuai dengan perintah dan larangan dari Allah Swt.. Keyakinan ini membawa setiap diri berusaha untuk berbuat dan berperilaku baik. Yaitu menjadi individu bertakwa atau berkepribadian Islam, di mana dan kapan pun. Dengan keyakinan ini mampu menjaga setiap individu dari berbagai perilaku yang menyimpang dan merugikan orang lain.

Pembentukan kepribadian Islam ini akan dilakukan dalam setiap lini kehidupan terutama dalam pendidikan. Sekolah Islam hanya akan mengajarkan ilmu yang dibutuhkan oleh umat, mengajarkan pemahaman dari Islam saja dan diberikan pemahaman ajaran lain jika sudah tingkat kuliah. Tujuan pendidikan itu sendiri bukan untuk meraih pekerjaan, melainkan untuk membentuk kepribadian Islam. Yaitu pribadi yang  bertakwa, mampu menguasai sains dan teknologi, serta siap menjadi pemimpin. Dengan konsep seperti ini anak-anak dididik untuk menjadi orang yang paling berguna, kuat dan berwawasan luas. Tidak sibuk dengan kepentingan sendiri, melainkan berupaya untuk menjadi orang yang bermanfaat, baik untuk diri, keluarga, dan juga negara.

Selain itu, dalam sistem Islam, keluarga terutama ibu diposisikan pada fungsi utamanya. Yaitu sebagai ummu warabatul bait. Sebagai ibu dan pengatur urusan keluarga. Para ibu fokus untuk mencetak dan mendidik generasi yang hebat. Dengan kelembutan dan kasih sayangnya akan menghidupkan kembali tujuan dari adanya keluarga. Yaitu memberikan perlindungan dan kehangatan untuk anggota keluarga.

Sedangkan untuk pemenuhan nafkah adalah tanggung jawab para laki-laki. Semuanya akan di-support oleh sistem ekonomi dan sistem negara Islam. Sistem ekonomi Islam akan mampu menyediakan lapangan pekerjaan untuk setiap laki-laki yang mampu bekerja. Negara akan memberikan ilmu, alat dan lahan untuk bisa bekerja. 

Negara pun akan memberikan bantuan langsung kepada orang yang membutuhkan atau yang tidak bisa bekerja. Dengan sistem Islam akan mampu memberikan kesejahteraan pada seluruh masyarakat. Sebab prinsipnya adalah bahwa penguasa adalah pengurus dan pengatur urusan umat. Sehingga dalam hal pendidikan, kesehatan dan keamanan akan diberikan secara gratis dan berkualitas. 

Selain itu, sistem sanksi dalam Islam sangatlah tegas dan jelas. Batasan dalam memberikan sanksi pada anak dengan bersandar pada balig tidaknya. Bukan batasan usia. Jika akan sudah balig maka akan dijatuhkan sanksi sesuai dengan kejahatan yang dilakukannya. Sedangkan jika belum balig makan tidak akan dijatuhkan sanksi. 

Dengan sistem yang seperti ini tentu anak-anak akan hidup dalam suasana kasih sayang di dalam rumah, aman saat ada di luar rumah dan mendapatkan pendidikan yang terbaik di sekolah. Sehingga perilaku kriminal pada anak akan mudah dijauhi bahkan dihilangkan.

Oleh karena itu sudah saatnya umat ini mencampakkan sistem kapitalisme sekular. Sebab sudah jelas menyengsarakan dan menghancurkan semua lini kehidupan. Kemudian beralih dengan mengambil Islam, sebagai sebuah sistem kehidupan. Dengan penuh keyakinan bahwa Islam akan mampu memimpin dunia kembali. Sebab Islam diturunkan oleh zat yang Maha Kuasa yaitu Allah Swt..

Wallahualam bissawab. []

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.