Itaewon vs Kanjuruhan: Peduli Rakyat Negara Lain, Abai Pada Rakyat Sendiri

Daftar Isi

 



SIDDIQ-NEWS.COM- Bencana kemanusiaan di Bulan Oktober kembali terjadi. Sabtu tanggal 29 Oktober 2022 tampaknya menjadi hari kelam bagi masyarakat Korea Selatan. Hal ini terjadi karena ada insiden ketika perayaan Halloween.


Seperti dilansir dari BBC.com (30/10), kemeriahan perayaan Halloween di Itaewon, salah satu distrik di Kota Seoul, berakhir mengenaskan. Lebih dari 150 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka akibat berdesak-desakan.


Itaewon adalah sebuah pusat hiburan di Seoul yang menawarkan berbagai restoran mancanegara, lengkap dengan toko, bar, dan kehidupan malam. 


Aneka restoran yang menawarkan kuliner internasional membuat banyak orang asing berkunjung ke sana. Keunikan ini pun menjadi daya tarik bagi penduduk lokal yang ingin merasakan suasana seperti di luar negeri. 


Setelah dua tahun vakum dari pesta Halloween akibat pandemi Covid-19, masyarakat Korea Selatan menjadi sangat antusias untuk merayakan pesta kostum di sana. 


Diperkirakan setidaknya ada 100 ribu orang yang mengunjungi kawasan Itaewon pada malam itu. Tentu bisa dibayangkan bagaimana kondisi putus asa para pengunjung yang bertumpuk nyaris tak bergerak. 


Bahkan, terdengar jeritan kepedihan karena sesak tak bisa bernapas. 


Sontak saja, tragedi memilukan tersebut membuat penduduk dunia begitu prihatin. Sampai-sampai penguasa negeri ini juga tidak ketinggalan menyampaikan bela sungkawa atas tragedi maut itu. 


Tak tanggung-tanggung presiden menyatakan Indonesia bersama rakyat Korea Selatan. 


Sebenarnya, ungkapan duka cita dari seorang kepala negara tidaklah salah. Hanya saja, yang bikin miris adalah sikap penguasa yang cenderung lebih peduli dan prihatin dengan rakyat negara lain dibandingkan dengan nasib rakyat sendiri. 


Pasalnya, jauh sebelum tragedi Itaewon diawal Oktober lalu publik juga digegerkan dengan tragedi Kanjuruhan yang juga menelan ratusan korban jiwa. Namun, penguasa justru saling lempar tanggung jawab dari kejadian nahas tersebut. 


Aparat keamanan seolah mencari dalih untuk menutupi kelalaiannya. Bahkan, tidak ada pernyataan "pemerintah bersama korban Kanjuruhan". Selain itu, penguasa juga membiarkan perayaan Halloween di Indonesia. 


Padahal, perayaan tersebut adalah budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya masyarakat. Pun, menyalahi akidah penduduk negeri ini yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Serta tidak membawa manfaat apapun terhadap pembangunan karakter pemuda masa depan. 


Sebab, perayaan semacam itu hanya mengedepankan kesenangan belaka. Tak jarang diikuti dengan konsumsi miras, narkoba, seks bebas dan sejenisnya. 


Ya, inilah potret penguasa yang abai akan proses pembinaan karakter para pemudanya. Padahal, para pemuda adalah kaum yang akan membangun peradaban bangsa pada masa depan. 


Hal tersebut tentu erat kaitannya dengan sistem kepemimpinan saat ini yakni Sekularisme kapitalis. Sistem ini tidak mempedulikan tolok ukur agama dalam setiap amal perbuatan. Karena, sekularisme telah memisahkan agama dari kehidupan. 


Oleh karena itu, orientasi kehidupan manusia hanya diarahkan untuk mencari kesenangan dunia semata, tanpa melihat halal-haram atau baik-buruknya. 


Alhasil, terbentuklah pemuda berprilaku permisif yang gila mencari kesenangan sesaat. Negara pun terkesan  abai terhadap urusan rakyatnya.


Jelas sangat berbeda dengan negara khilafah dalam memperhatikan nasib generasi. Khilafah sebagai institusi negara akan melindungi generasinya dari pemikiran, budaya, gaya hidup dan semua hal dari asing yang membahayakan akidah masyarakat.


Dari Abu Hurairah ra, Nabi Muhammad saw. bersabda : "Sesungguhnya al imam/lhalifah adalah perisai. Di mana orang-orang akan berperang dibelakangnya dan berlindung dari musuh dengan kekuasaannya ". (HR. Muttafaqun Alaih). 


Berdasarkan dalil tersebut maka khilafah akan bertanggung jawab atas pembentukan kepribadian generasi. Melalui berbagai mekanisme baik di dunia pendidikan maupun dunia luar pendidikan.


Dalam pendidikan khilafah akan menerapkan pendidikan Islam. Sebuah konsep pendidikan berasaskan kurikulum yang dapat melahirkan generasi berkepribadian Islam. 

 

Artinya, setiap anak didik dalam lembaga pendidikan lhilafah akan memiliki pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan syariat Islam. 


Anak-anak tidak akan lagi terpengaruh oleh pemahaman, pemikiran, budaya asing seperti sekularisme, kapitalisme, perayaan Halloween dan sejenisnya. 

 

Sebab, mereka paham bahwa hal yang demikian termasuk tasyabbuh bil kuffar alias menyerupai kaum kafir yang haram bagi seorang muslim untuk mengikutinya. 


Dari sistem pendidikan ini anak-anak akan dibentuk menjadi sosok manusia yang peka dengan permasalahan umat. Mereka juga akan dibekali ilmu-ilmu alat sehingga bisa bertahan dalam mengarungi kehidupan.


Dengan demikian, lahirlah generasi yang paham bahwa kemuliaan hidupnya adalah terletak pada seberapa besar dirinya menghabiskan hidupnya hanya untuk Islam dan kaum muslim. 


Cara berpikir inilah yang membuat mereka fokus menjadikan dirinya agar senantiasa terikat hukum syara ketika mengembangkan potensi yang mereka miliki. 


Di samping itu, pendidikan Islam akan menguak kebobrokan dan kebatilan pemikiran Barat. Sehingga, generasi Islam tidak akan suka dengan sendirinya terhadap ide-ide asing. Perlindungan khilafah pada generasi terhadap ide asing juga terwujud dari penjagaan media.  Karena media dalam khilafah dipergunakan untuk memberikan pendidikan bagi umat, menjaga kaidah dan kemuliaan akhlak serta menyebarkan kebaikan ditengah masyarakat. 


Oleh karena itu, semua konten yang memuat hal-hal yang merusak akhlak dan agama akan dilarang untuk ditayangkan. Kontrol sosial masyarakat khilafah yang aktif melakukan amar makruf nahi mungkar akan semakin menguatkan kepribadian Islam generasi. 


Percayalah hanya khilafah yang sanggup menyelamatkan generasi muda dari perbuatan sia-sia berakhir tragis. 


Wallahu a'lam bisshawwab.


Penulis: Teti Ummu Alif

(Pegiat Literasi Kota Kendari)