Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Presidensi G20, Benarkah Membawa Manfaat Bagi Rakyat?

Jumat, 25 November 2022 | Jumat, November 25, 2022 WIB | 0 Views Last Updated 2022-11-25T09:05:13Z


Shiddiq-news-Berbagai problem yang dihadapi oleh masyarakat sampai saat ini belum juga terpecahkan. Besar harapannya agar negara-negara Muslim  Muslim harus mampu menjadi pioner terdepan dalam memperjuangkan kemanusiaan, serta menciptakan tatanan ekonomi dan politik, dan sosial  yang humanis. 


Baru-baru ini Indonesia menjadi tuan rumah dalam acara G20 yang berpusat di Bali. Acara ini melibatkan 17 kepala negara dan 3.443  delegasi, adapun negara yang hadir secara langsung dalam acara KTT G 20 ini adalah Afrika Selatan, Amerika Serikat, Arab Saudi, India, Inggris, Italia, Jepang, Australia, Argentika, Jerman, Turki, Prancis,  Tiongkok, Korea Selatan, Uni Eropa, Jerman, dan Kanada. Sementara itu kepala negera Rusia, Meksiko, Brazil, tidak bisa hadir hanya saja Kepala Negara Rusia Vladimir Putin mengikuti acara secara virtual.


Hal ini menimbulkan kekhawatiran jika puncak acara KTT G20 tidak mencapai komunike dari para kepala negara namun Luhut tak mengambil pusing apakah terjadi pencapaian pada Komunike atau tidak. 


Dilansir dari Jawapos.com, (12/11/2022), sebagai ketua Bidang Dukungan Penyelenggaraan  acara G20, Luhut Binsar Panjaitan menyatakan tidak khawatir, karena G20  di bawah kepemimpinan Indonesia sudah menghasilkan berbagai kesepakatan di berbagai bidang. Juga memberikan dampak ekonomi yang sangat besar bagi RI. Kalau pada akhirnya tidak mencapai leaders communique, tidak menjadi masalah. Sebab sudah banyak hal dan berbagai macam yang dihasilkan bahkan dari sisi ekonomi Indonesia telah mencapai miliaran dolar AS.


Perlu kita ketahui, bahwa berbagai masalah di negara kita hari ini bukan hal sepele sehingga di abaikan begitu saja. Mulai dari persoalan kemiskinan yang tinggi, kerawanan atau konflik sosial, negara seharusnya bertindak secara tegas mengatasi masalah yang ada bukan di diami sampai akar masalah meluas. 


Bukankah negara kita kaya akan SDA (Sumber Daya Alam), bahkan kekayaannya sebenarnya mampu mendobrak kemiskinan, tapi kenapa kemiskinan masih terjadi dimana-mana? Bahkan yang menikmati hasil  SDA pun justru bukan lagi internal atau rakyat Indonesia. Melainkan, justru di nikmati oleh negara lain seperti Cina dan Amerika. Alhasil, Rakyat hanya bisa gigit jari dan menelan pahitnya kehidupan yang hari demi hari keadaan kian pelik. 


Apalagi dalam rangka G20 yang katanya memberikan banyak keuntungan dan meningkatkan perekonomian negara, apabila hal itu benar adanya belum tentu rakyat ikut merasakan karena pada dasarnya setiap keuntungan hanya didapatkan oleh pejabat tinggi negara yang berkolaborasi dengan para pemilik modal.


Begitulah sistem negara hari ini, yang mana lebih mementingkan individu dan kelompok tertentu seperti para pengusaha besar yang memiliki modal besar pada negara Indonesia. Seandainya negara mengelola SDA dengan baik dan melindunginya dari tangan-tangan asing maka tidaklah kita temukan kemiskinan yang merajalela di setiap kota maupun desa. 


Perekonomian dalam Islam sendiri di jelaskan dalam buku Al Islam Khuthutun ‘Aridha Al-Iktishad, al-Hukm, al-Ijtima’, Dr.Samih ‘Athif Az-Zain menjelaskan filosofis perekonomian dalam Islam. Dalam Islam ditegakkan perekonomian sebagai perwujudan kesejahteraan manusia, bukan untuk kesejahteraan individu-individu tertentu atau individu-individu yang tidak terikat dengan norma dan etika Islam. Islam juga tidak memisahkan antara individu maupun masyarakat secara bersamaan. Ketika Islam memperhatikan kepentingan individu Islam juga mengatur masalah masyarakat, begitu pun sebaliknya ketika Islam memperhatikan kepentingan masyarakat maka Islam pun mengatur kepentingan individu.


Kepemilikan dalam sistem Islam berbeda dengan sistem selain Islam, dimanah Islam memandang harta adalah milik Allah  yang dimiliki oleh manusia. Harta manusia adalah pemberian dari Allah SWT sehingga penghasilan ataupun penggunaan setiap harta haruslah sesuai syariat.


 Oleh karena itu, kekayaan yang ada dalam sebuah negara adalah pemberian Allah Swt. wajib dikelola oleh internal atau kepala negara dan diberikan kepada masyarakat, tidak diberikan kepada pihak asing bahkan perlindungannya pun dilakukan begitu ketat.


Hasil dari olahan SDA negara akan diberikan kepada rakyat untuk memenuhi setiap kebutuhan mereka, dengan begitu masyarakat tidak akan merasakan sulitnya kehidupan karena tanggung jawab atas mereka ada di tangan pemimpin yang amanah.


 Sebagaimana kisah Umar bin Abdul Aziz di bawah kepemimpinan beliau sulit bahkan tidak ditemukan keberadaan rakyat yang menderita karena kemiskinan. Sebab beliau memenuhi apa pun yang dibutuhkan oleh rakyatnya. Semua itu tidak akan terjadi bila sistem yang di anut adalah buatan manusia yang terbatas, sebaliknya hal itu akan terjadi bila syariah Islam menjadi sistem dalam bernegara. 


Wallahu a’lam bisshawab


Penulis: Sasmin 

(Pegiat Literasi)

×
Berita Terbaru Update