Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Muncul Remaja Sadboy Mengapa Bisa Terjadi?

Senin, 16 Januari 2023 | Senin, Januari 16, 2023 WIB | 0 Views Last Updated 2023-01-16T03:56:31Z




Dalam sistem Islam,  negara akan menyaring sumber informasi yang tak layak ditampilkan. Andil negara sangat besar untuk menjaga konten-konten yang berpotensi merusak generasi 


Oleh Rhany 

(Pemerhati Remaja Andoolo)


Zaman serba digital, setiap aktivitas  tak luput dari teknologi. Dunia maya menjadi standarisasi dunia remaja hari ini.  Konten viral jadi tolok ukur gaya membebek alias ikut-ikutan. Jika bebek ke kiri,  dia akan ikut kiri juga, jika terlanjur ke kanan pasti juga akan ke kanan. Ke jurangpun ikut terjebak. Bagi penikmat media sosial tentu mengenal konten apa yang sedang diperbincangkan dunia sosmed hari ini, minimal ikut terciprat. 


Dikutip oleh Okezone (6/1/2023), Fajar Sadboy merupakan remaja asal Gorontalo yang akhirnya viral karena  kisah cintanya yang memilukan. Fajar mulai viral ketika sebuah video yang beredar di media sosial memperlihatkan dirinya menangis. Umusut punya usut, ia sedih karena disakiti seorang perempuan.


Dalam video tersebut, Fajar mengungkapkan jika sang pujaan hati tidak pernah menghubunginya lagi. Bahkan pesannya tak pernah dibaca sejak bulan Oktober. Sejak viralnya video tersebut, nama Fajar ikut terangkat dan mendapatkan julukan Sadboy. Kosakata yang berasal dari bahasa Inggris memiliki seorang pria yang sedang bersedih. Umumnya julukan tersebut ditujukan pada pria yang sedih karena putus cinta.


Konten di atas menggambarkan sebagian remaja hari ini selalu disibukkan dan dininabobokan dengan urusan remeh temeh bahkan menghancurkan pola berpikir dan pola bersikap. Bagaimana tidak seorang remaja yang berumur 15 tahun rela putus sekolah hanya demi soal percintaan, hal itu dianggap sebuah perjuangan antara hidup dan mati.  


Lebih mengherankan lagi sebagian netizen turut mengapresiasi perjuangan dari si Fajar ini. Banyak yang terhipnotis dengan kata-kata dan quote yang spontan diucapkan dalam berbagai acara yang dihadirinya.  Akhirnya dijadikan sebuah dalil bolehnya aktivitas pacaran yakni hubungan tanpa ikatan.


Berbagai stasiun TV andil menayangkan, dan mengundang sebagai bintang tamu. Wajar dalam sistem kapitalis basis sekuler yang dipikirkan soal cuan, termasuk siaran TV yang jadi patokan adalah rating TV, tak peduli tontonan jadi tuntunan. Bukan membantu mencerdaskan umat tapi turut serta menyesatkan kaula muda. 


Harusnya stasiun TV  dan konten media memikirikan matang-matang kebermanfaatan hasil karyanya. Sebab akan mudah ditiru dan diikuti.


Dikutip dari Tempo (6/1/2023), Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta Husny Mubarak Amir menilai tayangan tentang sosok Fajar Labatjo alias Fajar Sadboy di televisi merusak generasi bangsa. Alasannya televisi menyoroti kisah percintaan Fajar.


Sadboy kontraproduktif dan hanya memikirkan hiburan semata yang tidak jelas mutunya. Padahal seharusnya tayangan televisi menyajikan tayangan konten yang produktif dan tidak memikirkan rating saja. 

Anak seusianya seharusnya lebih fokus dalam dunia pendidikan. Husni mempertanyakan, mau jadi apa ketika generasi kita, apabila anak usia 15 tahun menganggap dunia percintaan adalah segalanya.


Mau tidak mau,  suka atau tidak, setuju atau tidak setuju konten seperti ini selalu jadi trending topik jagad sosmed karena dianggap unik dikalangan masyarakat. Konten unfaedah dan minim prestasi tumbuh subur dan jadi buah bibir para netizen.  Akhirnya sebagian masyarakat dengan niat tidak ingin cari tahu, tapi algoritma sosial media mengarahkan dan menampilkan data yang sedang diperbincangkan dalam dunia maya, hingga tak akan luput dari pantauan sosmed kita. 


Dalam sistem Islam,  negara akan menyaring sumber informasi yang tak layak ditampilkan. Andil negara sangat besar, justru informasi seperti ini tak akan ada di sistem Islam. Negara tak akan membiarkan media penghancur generasi di atas kaki penjajah.  Sistem Islam berkewajiban menjaga kewarasan dari kawula muda karena mereka adalah pelanjut estafet kepemimpinan sebuah negara. Berharap muncul generasi tangguh dari sistem yang rusak merupakan sebuah kemustahilan bak panggang jauh dari apa. Lantas haruskah kita berdiam diri tanpa melakukan perubahan ke arah yang lebih baik?


 Wallahu a'lam bishawwab

×
Berita Terbaru Update