Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Child Free, Pilihan atau Propaganda Negatif?

Sabtu, 11 Februari 2023 | Sabtu, Februari 11, 2023 WIB | 0 Views Last Updated 2023-02-11T08:23:31Z


Ide Childfree Sesungguhnya adalah Budaya Barat Rusak dan Tidak Memanusiakan Manusia


Prinsip Rusak Child Free akan Terus Menyebar Bersamaan dengan Tersebarnya Sistem Kapitalisme Sekuler Liberal 


Penulis : Nur Indah Sari

(Pegiat Literasi)


Siddiq-news.com | Child free sebuah ide lama yang kini menjadi sebuah perbincangan hangat dan menjadi trending di tweeter, Senin 6 Februari 2023. Seorang Youtuber, bloger, sekaligus influencer berinisial GS atau Gita Savitri Devi menjawab pernyataan netizen mengenai wajahnya yang awet muda meski memasuki usia 30 tahunan. GS menyatakan bahwa dirinya seperti itu karena di usianya saat ini dia menyatakan dirinya tidak mau memiliki anak atau child free.


Tidak sekali ini saja GS mengumumkan hal tersebut. Bahkan di tahun 2021 sebelumnya juga pernyataan mengenai GS child free menjadi viral. Pro kontra terjadi karena ide child free tersebut.


Tentu kita bertanya-tanya apakah ini merupakan sebuah pilihan pribadi atau propaganda agar ide child free tersebut dapat diterima oleh masyarakat. Jika kita telisik lebih dalam sebenarnya ide child free ini hal yang sudah biasa di negara Barat dan menjadi pilihan hidup bagi banyak orang di sana. Sedangkan di Indonesia masih menjadi sesuatu yang asing.


Apa itu propaganda? Propaganda adalah teknik mempengaruhi cara berpikir orang lain agar sesuai dengan keinginan pihak tertentu. Hal ini merupakan salah satu jenis penyampaian pesan yang sudah dijalankan sejak dahulu. Yang berbeda adalah strategi, peralatan, dan teknik yang dipakai. Alat propaganda yang sekarang populer digunakan adalah media sosial.


Dahulu propaganda disebarkan lewat radio dan film pendek. Bila kita pernah membaca sejarah Jerman kita akan mengenal istilah “Argentum ad nausem” atau lebih dikenal sebagai teknik Big Lie (kebohongan besar). Prinsip dari tekniknya itu adalah menyebarluaskan berita bohong melalui media massa sebanyak mungkin dan sesering mungkin. Hingga kemudian kebohongan tersebut dianggap sebagai suatu kebenaran. Sederhana tetapi mematikan. Adapun pelopor propaganda modern yaitu Goebbels. Teknik tersebut kini dikembangkan dengan cara yang modern dengan media sosial.


Ide child free lahir atas kebebasan berperilaku berasaskan sekularisme atau pemisahan agama dari kehidupan. Alhasil, ide ini menjauhkan manusia dari ketaatan kepada Allah Swt., yang kemudian membuat aturan hidup sendiri. Ide ini pun dianut kaum femininis yang mengagungkan hak kepemilikan tubuh. Mereka menganggap tidak ada yang bisa mengatur selain diri sendiri, termasuk dalam hal hamil, melahirkan dan memiliki anak.


Beberapa alasan yang diungkap mereka yaitu anak akan menyulitkan wanita ketika berkarir, menambah ledakakan jumlah populasi anak, hingga terjadi kerusakan lingkungan. Juga, menganggap merawat anak tidak mudah dan menyulitkan terutama dalam masalah pemenuhan kebutuhan serta alasan mengenai traumatis pengasuhan oleh orang tua di masa lalu. Alasan tersebut menjadi landasan segelintir orang memilih untuk child free.


Di samping itu, mereka juga membuat suatu komunitas sebagai tempat berkumpul dan bertukar informasi. Ide mereka pun disebarkan ke seluruh penjuru dunia agar eksistensi sistem kapitalis yang liberal atau bebas berperilaku tanpa ada aturan agama tetap ada.


Pandangan Islam


Islam memandang bahwa memiliki anak adalah fitrah manusia. Bahkan banyak doa dari para Nabi agar memiliki keturunan seperti Nabi Dzakariya. Merawat dan mendidik anak adalah bagian dari ibadah dan kemuliaan orang tua. Orang tuanya akan mendapatkan pahala yang besar yaitu surga yang tinggi. Anak merupakan penyambung amal orang tuanya ketika sudah meninggal dunia. Selain itu, anak-anak adalah penerus cita-cita orang tua dan penerus kehidupan selanjutnya.


Berbagai kekhawatiran tentang anak muncul, hal ini akibat penerapan sistem rusak yaitu Kapitalisme sekuler. Dalam sistem kapitalis tidak ada jaminan untuk memenuhi kebutuhan pokok baik itu pangan, sandang atau papan. Berbeda dengan sistem Islam yang sangat memperhatikan pemenuhan kebutuhan ini tiap individu.


Siapakah yang lebih baik jaminannya selain Allah. Di dalam Al-Qur’an surat Al-Isra ayat 31, Allah menjamin rezeki setiap anak dan tidak boleh ada ketakutan.


Rasul bersabda bangga akan jumlah umat-Nya yang banyak. “Nikahilah perempuan yang pecinta (yakni yang mencintai suaminya) dan yang dapat mempunyai anak banyak, karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab (banyaknya) kamu di hadapan umat-umat (yang terdahulu)." (Shahih Riwayat Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Hibban dan Hakim dari jalan Ma’qil bin Yasar)


Rasulullah pun mendoakan siapa saja yang banyak anaknya, agar diberi keberkahan dan kesejahteraan.


Dalam kitab Nizham Al-Islam dikatakan bahwa pemahaman seseorang akan mempengaruhi tingkah lakunya. Pemahamannya ini muncul dari informasi sebelumnya. Maka, ada baiknya kita memilih dan memilah informasi dengan baik. Sehingga kita tidak terjerumus pada propaganda negatif.


Keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah cara efektif untuk menghilangkan berbagai kekhawatiran tersebut. Serta perlu adanya sistem yang memanusiakan manusia. Sistem tersebut adalah sistem yang lahir dari Sang Pencipta manusia yaitu Allah Swt.. Sehingga tidak akan ada keraguan dan kesalahan, yakni sistem kehidupan Islam. Wallahualam bisawwab.

×
Berita Terbaru Update