Kasus Baby Blues Tinggi, Minimnya Support System dalam Kapitalisme-sekuler

Daftar Isi

 


Dengan dukungan sistem yang benar, individu yang beriman sampai negara yang berperan maksimal dalam menjamin kesejahteraan rakyatnya, selamaa 13 abad, Islam mampu melahirkan sosok ibu generasi tangguh, minim gangguan mental dengan pola pikir dan pola sikap Islami yang dimilikinya


Dalam urusan rumah tangga, pendidikan Islam baik formal maupun non formal memberikan ilmu yang benar tentang keluarga, bagaimana menjadi ibu bagi perempuan, dan peran laki-laki sebagai suami sebagaimana tuntunan syariat Islam


Penulis Nur Sila 

Freelance Writer


Siddiq-News.com -- Mengejutkan, Indonesia menjadi urutan ke-3 se-Asia dengan kasus gangguan kesehatan mental pada ibu. Gangguan tertinggi ditemukan pada populasi ibu hamil, dan pasca melahirkan, dalam hal ini ibu menyusui dan yang memiliki anak usia dini. Ketua komunitas Wanita Indonesia Keren dan Psikolog Dra. Maria Ekowati menyatakan bahwa penelitian di Lampung ada 25 persen wanita mengalami gangguan depresi setelah melahirkan. Kemudian hasil penelitian Andrianti pada tahun 2020 mengungkap ibu hamil yang mengalami depresi sebanyak 32 persen, sementara persentase ibu depresi setelah melahirkan sebanyak 27 persen. Begitu pula penelitian skala nasional menunjukkan 50-70 persen ibu di Indonesia mengalami gejala baby blues (detik[dot]com, 26-5-2023).


Banyaknya fenomena baby blues menggambarkan kesehatan mental ibu di Indonesia makin bermasalah. Berkaitan dengan hal tersebut para ahli menerangkan beberapa pemicunya, seperti faktor hormonal yang ditandai dengan kondisi ibu baru yang tiba-tiba cemas berlebihan, murung, mudah marah, menangis, hingga gangguan tidur. Selain itu juga kondisi rumah tangga, dimana wanita yang mengalami KDRT atau pernikahan tidak harmonis rentan mengalami baby blues. 


Memang benar, faktor-faktor di atas berpengaruh besar terhadap kestabilan fisik dan psikis seorang ibu. Dalam menghadapinya harus menyiapkan banyak hal, semisal mental, fisik, termasuk ilmu parenting yang mumpuni terkait bagaimana berumah tangga, merawat anak, dan pengendalian diri ketika dihadapkan dengan sedikit “kerikil” dalam keluarga kecilnya. Apabila semua itu luput dari perhatian, maka potensi baby blues cukup besar. Akan tetapi, para ibu pun tidak bisa berupaya meminimalisasi peluang seorang diri, melainkan memerlukan dukungan penuh dari sekitarnya, seperti suami, keluarga, dan lingkungan.


Sayangnya, kehidupan saat ini tidak ideal untuk menunjang adanya support system yang sekiranya mengurangi baby blues pada ibu. Perubahan hormon yang sifatnya alamiah akan makin gawat dengan mental yang payah dalam menjalankan peran barunya. Berangkat dari pola pikir yang keliru dari individu masing-masing, ada yang menganggap bahwa menjadi calon ibu dan ibu itu rumit, beban, dan rutinitasnya membosankan. Kesalahan cara pandang inilah yang menyebabkan para wanita merasa bahagia menjadi istri, namun tertekan sebagai ibu. Terlebih lagi sejak remaja sudah mengalami krisis mental, lemah, enggan mengambil risiko, patah semangat, dan semacamnya. Akhirnya ketika berhadapan dengan sedikit masalah, menjumpai realita yang tidak sesuai dengan ekspektasi, dunia seolah runtuh.


Wajar, pendidikan yang berlaku mengondisikan demikian, dimana kurikulumnya sekadar untuk mencapai nilai sempurna di atas kertas, sementara abai dengan ilmu dasar parenting. Setidaknya meletakkan pemahaman dasar tentang ganjaran kebaikan ketika menjadi sosok ibu, merawat anak yang menjadi amanah-Nya, dan lain-lain. Lenyapnya hal itu karena sistem pendidikan negeri ini jauh dari agama, kering dari rasa keimanan dan ketakwaan, sebagai bawaan sistem kehidupan yang sedang berlaku.


Makin berat dengan masalah ekonomi yang membelit keluarga. Tidak sedikit orang tua, termasuk ibu yang merasa tertekan karena bertambahnya tanggungan pasca kelahiran anggota keluarga baru. Pemasukan rumah tangga ala kadarnya, sekadar cukup untuk memenuhi kebutuhan perut orang dewasa, sementara banyak biaya tak terduga yang harus dikeluarkan untuk tumbuh kembang sang anak. Sehingga tidak heran jika alasan ini pula yang menjadikan banyak pasangan menunda memiliki anak, bahkan memilih hidup tanpa anak (childfree). Sekalipun memutuskan untuk memiliki anak, seringkali ada kasus ibu yang mengakhiri hidup anaknya karena masalah ekonomi.


Dari sajian fakta di atas, bisa dipahami bahwa fenomena baby blues bukanlah persoalan sederhana yang penyelesaiannya sebatas menyentuh pucuk-pucuknya, melainkan persoalan sistemik yang dibawa oleh sistem kapitalisme-sekuler di negeri ini.


Karena asasnya yang mendepak peran agama sebagai pengatur seluruh aspek kehidupan manusia, meniscayakan manusia hidup terombang-ambing tanpa landasan yang benar. Begitu pula dengan seorang ibu, ketika secara individu enggan mengambil tuntunan agama dalam berbuat, hilang pengendalian dirinya, maka potensi gangguan mental sangat besar. Begitu pula ketiadaan campur tangan negara, sedikitnya dalam hal menjamin kesejahteraan seluruh rakyatnya, turut memberikan andil besar dalam maraknya kasus baby blues di Indonesia.


Sangat berbeda dengan kondisi para ibu yang lahir dan tumbuh dengan pemahaman Islam yang baik dan didukung oleh sistem Islam. Benar, bahwa hal tersebut tidak dapat meniadakan kasus baby blues hingga seratus persen, akan tetapi dapat meminimalisasi kasus serupa. Mereka telah memahami peran strategisnya sejak awal yaitu Islam menempatkannya pada posisi yang sangat penting dan mulia, sebagai ummu wa rabbatul bait atau sebagai ibu untuk anak-anaknya dan pengurus rumah tangganya. Dengan pemahaman itu, para ibu senantiasa ikhlas dalam mengemban perannya mencetak generasi yang saleh/salehah tumpuan peradaban. Ibu dengan ikhlas memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya, sabar mendidiknya, hingga menjadi 'alim ulama dan ilmuwan terkemuka.


Masalah ekonomi juga tidak menjadi soal bagi keluarga yang Islami. Selain memahami bahwa rezeki sudah mendapat jaminan dari Allah Swt., sehingga sekecil apa pun jumlahnya akan disyukuri dengan pemanfaatan yang sebaik mungkin. Tentu, untuk mendapatkan itu semua tidak datang dengan sendirinya, melainkan Islam memberikan tanggungjawab kepada negara untuk menyiapkan apa saja yang mendukung hal tersebut, mulai dari membuka lapangan pekerjaan, bahkan memberikan modal untuk laki-laki yang memiliki kewajiban nafkah.


Dengan dukungan sistem yang benar, individu yang beriman sampai negara yang berperan maksimal dalam menjamin kesejahteraan rakyatnya, terbukti selama 13 abad Islam mampu melahirkan sosok ibu generasi tangguh ketika itu, minim gangguan mental dengan pola pikir dan pola sikap Islami yang dimilikinya. Dalam urusan rumah tangga, pendidikan Islam baik formal maupun non formal memberikan ilmu yang benar tentang keluarga, bagaimana menjadi ibu bagi perempuan, dan peran laki-laki sebagai suami sebagaimana tuntunan syariat Islam.


Demikianlah support system yang dimiliki oleh kehidupan Islam sehingga membentuk ibu-ibu yang mampu menjalankan perannya secara optimal. Hanya saja, kondisi demikian memang mustahil terwujud dalam sistem kapitalisme-sekuler layaknya hari ini. Melainkan, ketika ketika negara dan seluruh elemen masyarakat menerapkan Islam secara total dalam kehidupan. Bukan hanya mengatasi maraknya baby blues, bahkan Islam memberikan solusi yang hakiki untuk seluruh persoalan hidup manusia. Wallahualam bissawab.