Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Peran Ibu Tergerus oleh Baby Blues

Senin, 05 Juni 2023 | Senin, Juni 05, 2023 WIB | 0 Views Last Updated 2023-06-05T08:29:51Z


Penerapan sistem Kapitalisme-sekuler telah menyandera kesehatan mental seluruh umat manusia. Sistem ini telah gagal membentuk generasi dan calon ibu tangguh. Hal ini karena kurikulum pendidikan sistem Kapitalisme mengusung paham sekuler


Sistem Kapitalisme-sekuler pun telah sukses mencetak lingkungan yang rusak dan melahirkan orang-orang yang individualis, suami yang minim perhatian dan empati, juga masyarakat yang tidak peka terhadap kesulitan atau apapun yang terjadi pada pribadi lainnya


Oleh Reni Rosmawati

Ibu Rumah Tangga


Siddiq-news.com - Menjadi seorang ibu adalah dambaan setiap wanita di dunia ini. Aktivitas mengurus anak merupakan sebuah pengalaman yang luar biasa. Meskipun demikian, berperan menjadi seorang ibu tidaklah mudah, terlebih bagi ibu baru. Banyaknya tugas yang dipikul para ibu pasca melahirkan menjadikan mereka kerap mengalami tekanan mental. 


Di Indonesia, populasi ibu hamil dan menyusui menjadi salah satu kelompok yang mengalami gangguan kesehatan mental tinggi. Bahkan, Indonesia menduduki peringkat ke-3 sebagai negeri dengan kasus baby blues tertinggi di Asia. Hal ini terungkap dari penelitian skala nasional. Dalam laporan penelitian yang dilakukan pada tahun 2020 tersebut, sebanyak 50-70% ibu Indonesia mengalami baby blues pasca melahirkan. (detikHealth, 26/05/2023)


Memprihatinkan 


Fakta bahwa Indonesia menempati posisi ketiga sebagai negeri dengan jumlah baby blues tertinggi di Asia sungguh sangat memprihatinkan. Tingginya kasus baby blues menggambarkan kesehatan mental ibu sudah berada di level gawat darurat. Pemerintah harus segera menyelesaikan masalah besar ini. Jika tidak, akan sangat berbahaya dan menimbulkan berbagai masalah kronis. Salah satunya seperti hilangnya kunci pengasuhan anak yang baik. 

 

Sebagaimana kita ketahui, seorang ibu merupakan kunci tumbuh kembang anak. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, juga pilar pengokoh generasi dan peradaban. Namun apa jadinya, jika tugas mulia seorang ibu ini tergerus oleh baby blues? Tentunya kehancuran generasi. Betapa tidak, baby blues syindrom (gangguan kesehatan mental) wanita pasca melahirkan adalah hal yang demikian berbahaya. Seorang ibu yang menderita sindrom ini menjadi hilang kendali, mereka mudah sedih, cemas, marah. Bahkan, tak sedikit yang sampai tega menyiksa dan menghilangkan nyawa buah hatinya.


Penyebab Baby Blues Syndrome


Jika ditelaah, sejatinya ada beberapa faktor pemicu terjadinya sindrom baby blues pada ibu, yaitu: pertama, perubahan hormon. Kedua, sulitnya beradaptasi bagi seorang wanita dari kehidupan sebelum dan sesudah menjadi ibu. Ketiga, kurangnya istirahat. Keempat, minimnya kesiapan mental menjadi orang tua dan menjalankan rumah tangga. Hal ini karena kurikulum pendidikan di dunia tak terkecuali Indonesia tidak menjadikan  kesiapan menjadi orangtua sebagai salah satu kompetensi yang harus dimiliki. Kelima, minimnya dukungan dari keluarga khususnya suami dan lingkungan. Keenam, himpitan ekonomi. Ketujuh, pemberlakuan sistem Kapitalisme berbasis sekuler, yang menjauhkan kehidupan dari nilai-nilai agama yang dibutuhkan sebagai pegangan hidup.


Baik disadari atau tidak, penerapan sistem Kapitalisme-sekuler telah menyandera kesehatan mental seluruh umat manusia. Sistem ini telah gagal membentuk generasi dan calon ibu tangguh. Hal ini karena kurikulum pendidikan sistem Kapitalisme mengusung paham sekuler (pemisahan agama dari kehidupan). Agama hanya boleh digunakan dalam pelaksanaan ibadah ritual saja. Maka tidak heran, demikian banyak manusia bermental lemah, mudah stress dan depresi tatkala menghadapi masalah. Parahnya, sistem Kapitalisme-sekuler pun telah sukses mencetak lingkungan yang rusak dan melahirkan orang-orang yang individualis, suami yang minim perhatian dan empati, juga masyarakat yang tidak peka terhadap kesulitan atau apapun yang terjadi pada pribadi lainnya. 


Di sisi lain, sistem ini pun telah menciptakan kesenjangan ekonomi yang memicu stress dan depresi. Faktanya, dari beberapa kasus baby blues syindrom yang terjadi, faktor ekonomi menjadi satu di antara banyak pemicu seorang ibu tega menghabisi nyawa anaknya.  


Islam Mengatasi Baby Blues 


Sebagai agama yang sempurna, Islam hadir ke dunia ini untuk mengatasi seluruh masalah kehidupan. Termasuk baby blues syindrom. 


Sejarah mencatat, ketika Islam diterapkan sebagai sistem kehidupan mampu mewujudkan peradaban gemilang. Seluruh perempuan menjadi para ibu tangguh, cerdas, dan dapat melahirkan generasi-generasi unggul panutan umat manusia. Seperti Muhammad al-Fatih, Imam Syafi'i, Ibnu Sina dan masih banyak lagi. Hal ini karena sistem Islam memiliki aturan yang sangat komprehensif, sesuai dengan fitrah manusia. Sehingga mampu menyiapkan setiap individu mengemban peran mulia sebagai orang tua, juga sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya.


Sejak dini, negara Islam di masa lalu menerapkan sistem pendidikan berbasis akidah Islam. Setiap sekolah dan keluarga didorong untuk menanamkan akidah yang kuat kepada setiap anak-anak. Sebab, sekolah dan keluarga merupakan pilar pengokoh tsaqafah (pemahaman) Islam. Dengan begitu, maka akan melahirkan generasi calon orang tua yang tangguh, tidak mudah rapuh dan depresi. 


Di samping itu, negara Islam juga menjamin seluruh kebutuhan vital rakyatnya. Sandang, pangan, papan, kesehatan, keamanan dan pendidikan dipenuhi secara adil dan merata. Lapangan pekerjaan pun dibuka seluas-luasnya. Sehingga tidak ada orang tua yang rentan stress dan depresi karena memikirkan beban hidup. 


Semua ini didukung oleh lingkungan sosial masyarakat yang islami. Budaya amar makruf nahi mungkar, saling menyayangi dan peduli terhadap sesama sangat dijaga oleh Islam. Para suami pun didorong agar senantiasa memberikan perhatiannya kepada istrinya. Sehingga ketika ada seorang ibu yang terlihat mengalami depresi akan dapat segera diatasi. Sebab suami sigap masyarakat pun memiliki kepedulian sosial yang tinggi. 


Di sisi lain negara Islam pun melarang segala hal berbau maksiat eksis. Berbagai tayangan dan tontonan diawasi. Sebab, biasanya tontonanlah yang merusak mental dan pemikiran generasi. Hal ini diperkuat dengan penerapan hukuman yang tegas dan menjerakan bagi setiap pelaku kejahatan. Sehingga peluang terulangnya kejahatan serupa akan tertutup rapat. 


Demikianlah betapa hebatnya sistem Islam dalam mengatasi baby blues syindrom dan mencetak peradaban mulia. Ketika sistem Islam diterapkan kasus depresi dan segala hal yang berbau kemaksiatan juga kriminalitas akan dapat diatasi. Karena itu, tidak ada alasan lagi bagi kita untuk menolak sistem Islam. 


Sebagai muslim sejati, sudah sepantasnya kita merindukan kembalinya sistem Islam di tengah kehidupan. Sudah semestinya pula kita jengah dan ingin membuang sistem Kapitalisme-sekuler biang segala kerusakan dan masalah kehidupan. Wallahu a'lam bi ash-shawwab.

×
Berita Terbaru Update